Wednesday, January 13, 2016
Review Game Final Fantasy 13 (PC version)
Final Fantasy 13 sebenarnya udah lama rilisnya, sekitar tahun 2009. Tapi saya baru menamatkannya sekarang. Karena sejak pertama kali mencoba game ini di konsol PS3 di awal-awal rilisnya, game ini nampak membosankan. Elemen JRPG-nya hampir gak ada, ya macam game adventure dengan linear path.
Tapi, demi kecintaan saya terhadap serial Final Fantasy, jadilah saya mainkan game ini lagi yang versi steam yang baru rilis 2013 silam.
Berdarah-darah dan berderu airmata dalam usaha saya menamatkan game ini. Bukan karena jalan cerita atau adegan yang menyentuh atau apalah-apalah, namun karena 80% progres di game ini sangat membosankan. Gak ada eksplorasi ke secret dungeon (eksplorasi cuma bisa di chapter 11 dan itu udah hampir tamat, wait, what?!), gak ada side quest yang berhubungan dengan main story, gak ada NPC yang memorable. Flat. Iya, semua flat. pppffff!
Sekilas dari main story-nya adalah begini;
Ada beberapa istilah yaitu cocoon, grand pulse, fal'cie, pulse fal'cie dan ci'eth
Cocoon itu ibaratnya bumi di game itu. sedangkan pulse itu 'alam gaib' dunia para monster yg ditakutkan menginvasi cocoon.
Kalo fal'cie itu semacam nabi yg membawa perintah dari sang pencipta dan pembuat takdir.
Lalu ada pulse fal'cie, manusia yg dipaksa jd pesuruh sang fal'cie(nabi) buat menyelesaikan misi2 di dunia. kalo gagal, jadinya ci'eth(monster) dan jiwanya tidak akan tenang. kalo berhasil, dia dihadiahi hidup abadi tp dalam bentuk kristal.
Garis besar ceritanya seperti ini; Tokoh utama Lightning beserta kawan-kawannya berusaha melawan takdir yang disusun oleh sang pencipta yang ingin memusnahkan manusia dengan berbagai cara. Kenapa? Mainkan game-nya untuk tahu jawabannya. hehehe
Untuk storyline-nya sih gak buruk-buruk amat. Cuman ya gak mengesankan kayak FF7, FF8, dan FF12.
Dari segi grafik, untuk game yang keluar di tahun 2009, presentasinya cukup menakjubkan. CGI smooth khas SquareEnix. Gak ada komplain untuk masalah ini.
Dari segi voice akting, ada beberapa percakapan yang terasa kurang berjiwa. Emosinya datar.
Dari segi soundtrack, ini masalah selera sih, namun saya gak terlalu suka dengan soundtrack FF13 ini. Masih kalah telak sama soundtrack FF8.
Dan yang paling penting adalah dari segi gameplay. Battle-nya cukup menyenangkan, makin ke belakang, makin susah, makin ngasih tantangan. Boss battle-nya cukup kampret, tapi itu yang bikin genre JRPG lebih oke dibanding WRPG, tantangannya bikin nge-grind level karakter gak sia-sia.
Monster-monster gigantic di akhir-akhir game bikin penasaran buat ngalahinnya.
Ya, itu aja review dari saya. kalo disuruh ngasih nilai keseluruhan sih, ya maaf aja SquareEnix, game ini cuma bernilai 6 dari 10.
[SPOILER]testestes[/SPOILER]
Thursday, January 7, 2016
Role Playing Blog: Magus dan Kebangkitan Dewa
“Sudah selesai?!” tanya Serel, gadis berbaju zirah yang
terbuat dari baja, pakaian perang khas kerajaan Sandeey kepada seorang pemuda
yang mengenakan jubah hijau pekat di sampingnya yang terlihat sedang merapalkan
mantra dari bibirnya. Wajah gadis itu terlihat sangat panik.
Garyan tersenyum dan menjeda rapalan mantranya,”Apa yang
terjadi pada Serel sang komandan pasukan elit termuda kerajaan Sandeey? Tidak
biasanya terlihat panik seperti ini?” godanya kemudian.
Wajah Serel berubah menjadi sangat frustrasi. “Selesaikan
saja mantramu, Garyan sang magus kepercayaan raja! Aku sedang tidak tertarik
pada candaanmu,” sahutnya sambil menghembuskan napas berat. “Kita harusnya
melindungi raja saat ini, bukannya malah terperangkap di dalam lubang sialan
ini!” sambungnya lagi sambil menebaskan pedang mitrilnya ke dinding berbatu di
sekitarnya hingga menimbulkan percikan api.
Serel dan Garyan terjebak ke dalam lubang bawah tanah
sedalam dua puluh meter dari permukaan. Sebelumnya mereka bertarung melawan
monster dan binatang buas yang tiba-tiba menyerang kerajaan Sandeey. Garyan,
seorang magus kelas atas kerajaan sedang merapalkan mantra sihir untuk memulihkan
kekuatannya dan membawa mereka keluar dari lubang itu.
Di tengah percakapan, secara tak terduga, seekor laba-laba
raksasa melompat dari atas tepat menuju Garyan. Dengan cepat Serel melompat
menerjang tubuh Garyan untuk menyelamatkannya dari serangan sang laba-laba
raksasa. Namun kuku tajam sang laba-laba berhasil mengoyak baju Zirah Serel hingga
melukai punggungnya dan membuat gadis itu tersungkur di atas tanah.
“SEREL!” teriak Garyan. “Laba-laba busuk!” makinya dengan
amarah. Kemudian Garyan mengambil ancang-ancang dan mengarahkan kedua telapak
tangannya di hadapan laba-laba itu. “Ignicius!!” pekiknya, kemudian muncullah
sambaran api yang sangat besar dari sela-sela telapak tangannya, membakar habis
sang laba-laba raksasa.
Setelah memastikan laba-laba itu mati, Garyan segera
memangku tubuh Serel dengan kedua tangannya. “Bertahanlah, Serel, aku akan
membawa kita keluar dari lubang sialan ini segera,” ucapnya dengan nada
setengah berbisik. “Aelius,” rapalnya kemudian.
Seketika muncul pusaran angin dari kaki Garyan, membawa
mereka melayang di udara dan membawa mereka keluar dari lubang itu.
Wednesday, October 14, 2015
Kupanggil Kau Ayah
Jika aku darah, aku akan mengalir dalam hidupmu.
Jika aku tulang, aku akan menopang bebanmu.
Jika aku udara, aku akan menjadi napasmu.
Jika aku manusia...kupanggil kau ayah.
Entah kau, wanita sundel, atau bajingan mana yang sudah membunuhku.
Entah malam, entah siang. Yang kutahu, sudah hilang nyawaku.
Jika aku manusia...kupanggil kau ayah.
Aku tidak menyesal tidak mengenal indahnya dunia.
Aku hanya sedih tidak jadi memiliki seorang ayah.
Ibu, aku ingat aku pernah memilikimu.
Ibu, kenapa aku tidak ingat memiliki seorang ayah.
Hanya saja jika aku manusia, kupanggil kau ayah.
Dunia adalah matahari!
Dunia adalah bulan!
Dunia adalah kilauan!
Dunia adalah apapun! ...Kecuali kamu
Dan aku...tidak akan cinta dunia.
Jika aku manusia, kupanggil kau...
Ayah...
Jika aku tulang, aku akan menopang bebanmu.
Jika aku udara, aku akan menjadi napasmu.
Jika aku manusia...kupanggil kau ayah.
Entah kau, wanita sundel, atau bajingan mana yang sudah membunuhku.
Entah malam, entah siang. Yang kutahu, sudah hilang nyawaku.
Jika aku manusia...kupanggil kau ayah.
Aku tidak menyesal tidak mengenal indahnya dunia.
Aku hanya sedih tidak jadi memiliki seorang ayah.
Ibu, aku ingat aku pernah memilikimu.
Ibu, kenapa aku tidak ingat memiliki seorang ayah.
Hanya saja jika aku manusia, kupanggil kau ayah.
Dunia adalah matahari!
Dunia adalah bulan!
Dunia adalah kilauan!
Dunia adalah apapun! ...Kecuali kamu
Dan aku...tidak akan cinta dunia.
Jika aku manusia, kupanggil kau...
Ayah...
Tuesday, October 6, 2015
Jakarta Great Wall
Jakarta great wall. Dinding hebat sang ibu kota. Pemisah kami dan kamu.
Berapa mayat yang harus kami tumpuk untuk melompati dinding itu?
Sebusuk apa bau bangkai untuk melewati dinding itu?
Kamu yang di sana, membaca tulisan ini sambil bergurau dengan mulut terbuka.
Kami di sini, menulis sambil berduka dengan mulut tertutup. Karena siapa tahu, berikutnya kami membuka mulut, itu adalah saat terakhir paru-paru kami bernapas.
Kami menambang, kamu yang dapat uang.
Kamu mengisap, kami yang kena asap.
Jakarta great wall. Dinding hebat sang ibu kota. Negara kami dan kamu.
Haruskah kami genangi tanah kami dengan air mata untuk berenang ke pucuk dinding itu?
Haruskah kami kucurkan darah sampai jauh agar amisnya sampai di kotamu?
Kamu yang di sana, membaca tulisan ini, mengingat lalu melupakan.
Kami di sini, menulis, menunggu mati lalu dilupakan.
Jakarta Great wall.
Di luar ibu kota, dibunuh kebodohan, dibunuh kemiskinan, dibunuh ketidakpedulian.
Jakarta great wall. Dengarkan, tolong dengarkan.
Suara lirih dari anak-anak sang ibu kota.
Jakarta great wall. Hancurkan, tolong hancurkan.
Berapa mayat yang harus kami tumpuk untuk melompati dinding itu?
Sebusuk apa bau bangkai untuk melewati dinding itu?
Kamu yang di sana, membaca tulisan ini sambil bergurau dengan mulut terbuka.
Kami di sini, menulis sambil berduka dengan mulut tertutup. Karena siapa tahu, berikutnya kami membuka mulut, itu adalah saat terakhir paru-paru kami bernapas.
Kami menambang, kamu yang dapat uang.
Kamu mengisap, kami yang kena asap.
Jakarta great wall. Dinding hebat sang ibu kota. Negara kami dan kamu.
Haruskah kami genangi tanah kami dengan air mata untuk berenang ke pucuk dinding itu?
Haruskah kami kucurkan darah sampai jauh agar amisnya sampai di kotamu?
Kamu yang di sana, membaca tulisan ini, mengingat lalu melupakan.
Kami di sini, menulis, menunggu mati lalu dilupakan.
Jakarta Great wall.
Di luar ibu kota, dibunuh kebodohan, dibunuh kemiskinan, dibunuh ketidakpedulian.
Jakarta great wall. Dengarkan, tolong dengarkan.
Suara lirih dari anak-anak sang ibu kota.
Jakarta great wall. Hancurkan, tolong hancurkan.
Monday, September 28, 2015
Monolog Sakit
Aku ingin menjadi luka biasa. Yang jika kutahan sakitnya, besok atau bahkan malam nanti sakitnya sudah sembuh. Tapi sepagian ini bukanlah pesuruhku. Pun hatiku, pun hidupku. Semua masa bodoh dengan inginku.
Malam tadi jelas bukan luka biasa. Yang jika kuingat sakitnya, besok atau bahkan selamanya takkan hilang. Sungguh sepagian ini aku hidup di masa lampau. Pun ingatanku, pun kenanganku. Semakin aku pernah bahagia, semakin sakit rasanya.
Aku masih menjamah jemarimu hari ini setahun yang lalu, tiga tahun yang lalu, dan tahun-tahun sebelumnya. Masih merasakan napasmu di atas bibirku, saling menatap di kamar mandi tempat favorit kita, di mana tak seorangpun tahu cintaku padamu. Cintamu padaku. Hanya ada kita. Aku masih ingat semua.
Saat menemuimu di atas ranjang di pagi buta, merapikan rambutmu juga pakaianmu, menyuapkan makan pagi ke mulutmu, hingga tiba butanya malam, selalu menemanimu. Di mana kamu ada, aku ada. Dan betapa kumengagumi indah wujudmu setiap hari. Aku masih ingat semua.
Tapi bulan purnama di malam tadi adalah yang terakhir kita saksikan bersama. Oh, kejamnya hidup. Oh, irinya dunia. Selalu mereka pisahkan cinta sejati dengan kematian. Layaknya Romeo dan Juliet, Tidus dan Yuna, Aeris dan Zack. Dan tiba masanya kamu dan aku.
Aku masih ingin semua ini hanyalah luka biasa. Yang jika besok aku membuka mata, semua kembali seperti biasa. Tapi masa bodohlah dengan inginku. Saatnya kuucapkan selamat tinggal dan kubawa sakit ini sampai di kehidupan berikutnya.
Selamat tinggal... kamu, aku. Kita.
Malam tadi jelas bukan luka biasa. Yang jika kuingat sakitnya, besok atau bahkan selamanya takkan hilang. Sungguh sepagian ini aku hidup di masa lampau. Pun ingatanku, pun kenanganku. Semakin aku pernah bahagia, semakin sakit rasanya.
Aku masih menjamah jemarimu hari ini setahun yang lalu, tiga tahun yang lalu, dan tahun-tahun sebelumnya. Masih merasakan napasmu di atas bibirku, saling menatap di kamar mandi tempat favorit kita, di mana tak seorangpun tahu cintaku padamu. Cintamu padaku. Hanya ada kita. Aku masih ingat semua.
Saat menemuimu di atas ranjang di pagi buta, merapikan rambutmu juga pakaianmu, menyuapkan makan pagi ke mulutmu, hingga tiba butanya malam, selalu menemanimu. Di mana kamu ada, aku ada. Dan betapa kumengagumi indah wujudmu setiap hari. Aku masih ingat semua.
Tapi bulan purnama di malam tadi adalah yang terakhir kita saksikan bersama. Oh, kejamnya hidup. Oh, irinya dunia. Selalu mereka pisahkan cinta sejati dengan kematian. Layaknya Romeo dan Juliet, Tidus dan Yuna, Aeris dan Zack. Dan tiba masanya kamu dan aku.
Aku masih ingin semua ini hanyalah luka biasa. Yang jika besok aku membuka mata, semua kembali seperti biasa. Tapi masa bodohlah dengan inginku. Saatnya kuucapkan selamat tinggal dan kubawa sakit ini sampai di kehidupan berikutnya.
Selamat tinggal... kamu, aku. Kita.
Wednesday, July 16, 2014
Pekerjaan Semesta
Suatu
hari aku berbuat sesuatu yang kuyakini benar. Melakukan apapun untuk
mencapai tujuan. Bahkan dengan menistakan musuh. Idealisme buta.
Hingga di sebuah taman di bawah mendung, anakku yang berumur 10 tahun mendekati dan berkata,
"Ayah, aku belajar di sekolah, kalau awan itu mengambil air dari bumi. Lalu jika sudah hitam pekat, airnya akan kembali ke bumi. Hujan. Deras," katanya sambil menunjuk gumpalan awan di atas kepala kami.
"Pintar!" sahutku sambil mengangkatnya ke udara. Kemudian kuciumi wajahnya dengan kasih sayang.
"Sama dengan pekerjaan semesta." Seorang lelaki tua, kira-kira sudah berusia lebih dari setengah abad, tiba-tiba berdiri di sebelah kami.
Aku menatap lelaki itu dengan risih.
"Semesta merekam semua perbuatan dan perkataanmu. Lalu suatu hari pasti dikembalikan lagi kepadamu. Jika tidak, pada anakmu. Jika tidak, pada cucumu."
"Bicara apa kau?"
"Aku bicara tentang 'karma'. Seperti air dari bumi, ke langit, lalu kembali ke bumi. Deras. Hunjam. Kita menyebutnya hujan. Tapi bagi semesta, itu adalah karma," jawab lelaki itu, lalu berjalan menjauh tanpa menoleh lagi.
Karma?
Kepalaku terus mengulang-ulang kata itu.
Aku memandangi anakku yang dari tadi ada di pelukanku. Kuhayati tawanya di dalam telingaku. Kuresapi senyumnya, bahagianya, ke dalam hatiku.
Itu adalah pertama kalinya aku takut memperjuangkan idealisme-ku...
_______________
Cerpen "Idealisme dan Karma"
Tidak ada orang jahat di dunia ini. Kita hanya memperjuangkan keyakinan yang berbeda, hingga semesta menghakimi salah atau benar.
Hingga di sebuah taman di bawah mendung, anakku yang berumur 10 tahun mendekati dan berkata,
"Ayah, aku belajar di sekolah, kalau awan itu mengambil air dari bumi. Lalu jika sudah hitam pekat, airnya akan kembali ke bumi. Hujan. Deras," katanya sambil menunjuk gumpalan awan di atas kepala kami.
"Pintar!" sahutku sambil mengangkatnya ke udara. Kemudian kuciumi wajahnya dengan kasih sayang.
"Sama dengan pekerjaan semesta." Seorang lelaki tua, kira-kira sudah berusia lebih dari setengah abad, tiba-tiba berdiri di sebelah kami.
Aku menatap lelaki itu dengan risih.
"Semesta merekam semua perbuatan dan perkataanmu. Lalu suatu hari pasti dikembalikan lagi kepadamu. Jika tidak, pada anakmu. Jika tidak, pada cucumu."
"Bicara apa kau?"
"Aku bicara tentang 'karma'. Seperti air dari bumi, ke langit, lalu kembali ke bumi. Deras. Hunjam. Kita menyebutnya hujan. Tapi bagi semesta, itu adalah karma," jawab lelaki itu, lalu berjalan menjauh tanpa menoleh lagi.
Karma?
Kepalaku terus mengulang-ulang kata itu.
Aku memandangi anakku yang dari tadi ada di pelukanku. Kuhayati tawanya di dalam telingaku. Kuresapi senyumnya, bahagianya, ke dalam hatiku.
Itu adalah pertama kalinya aku takut memperjuangkan idealisme-ku...
_______________
Cerpen "Idealisme dan Karma"
Tidak ada orang jahat di dunia ini. Kita hanya memperjuangkan keyakinan yang berbeda, hingga semesta menghakimi salah atau benar.
Wednesday, June 18, 2014
Curhatan #KampusFiksiEmas Part 2
Halo temans...
Kali ini saya akan melanjutkan curhatan #KampusFiksiEmas di hari ketiga dan hari terakhir saya di Jogjakarta (Jogjakarta apa Yogyakarta, sih?)
- Hari ketiga, Minggu, 15 Juni 2014; "Lava Tour Merapi!"
Setelah semua peserta dihitung dan diperhitungkan kesanggupannya mendaki, kami pun mendaki bersama.
Di tengah pendakian, ada yang sibuk foto-foto, selfie, ada yang sibuk ngobrol, bercanda, dan ada juga yang sibuk ngos-ngosan (saya).
Setelah foto-foto, Pak Kumis pun mengendarai jeepnya....
Menurut beliau, tour ini punya 3 pemberhentian. 1. Museum Sisa Hartaku, 2. Bungker, 3. Batu Alien.
Awalnya perjalanan dengan jeep itu terasa mulusss... tapi di tengah-tengah ternyata seperti menaiki roller coaster.
Pak Kumis dan teman-teman ternyata mempunyai kejutan untuk kami. Beliau melajukan, memainkan dan membuat jeepnya menari-nari di jalanan berbatu. Hingga membuat Pia, Lia dan Fia menjerit-jerit. Sementara saya diam, santai aja, tuh.
Kira-kira seperti ini adegannya;
*Jeep mulai menaiki gundukan bebatuan setinggi satu meter
Pia: AAAKKKK!!!
Lia: AAKKKK!!!
Fia: AAAKKKKK!!!
Saya: *Diam... *Tangan sambil mencengkeram erat besi penyangga jok mobil dengan muka pucat
Melewati beberapa jeritan, akhirnya kami sampai di pemberhentian pertama. "Museum Sisa Hartaku"
Tempat itu adalah kumpulan sisa-sisa harta peninggalan warga yang sudah terkena dampak lahar dan awan panas.
Ada alat musik yang 3/4 bagiannya sudah meleleh, kaset-kaset dan CD musik yang meleleh, monitor komputer yang meleleh, dan semua kenangan di dalamnya ikut meleleh...:(
Setelah puas melihat-lihat isi museum, kami pun melanjutkan tour ke destinasi berikutnya.
Kami menaiki jeepnya Pak Kumis lagi.
Kali ini lebih banyak aksi dipertunjukan oleh Pak Kumis dalam mengendarai jeepnya.
Beliau mengendarai dengan miring, berkelok, dan bergejolak.
Hingga Pia, Lia dan Fia lelah berteriak.
Lalu di suatu masa di atas jeep itu, Lia yang sudah hafal dengan kelakuan Pak Kumis, berkata tidak akan berteriak lagi. Alias diam ajah.
Begini adegannya;
*Pak Kumis melajukan jeep ke arah gundukan batu-batu setinggi 1 meter
Lia: Ah, Kali ini aku mau diam aja.
*5 detik kemudian, jeep mendaki gundukan batu
Lia: AAAKKKKK!!! AAAAAAA!!! AAAAKKKKK!!!!
Destinasi berikutnya adalah bungker yang memakan korban 2 orang relawan di erupsi Merapi 2010 lalu.
Setelah itu kami menuju "Batu Alien". Batu yang berbentuk seperti sebuah wajah besar, yang katanya menggelinding dari puncak Merapi.
Juga ada Farrah yang tergila-gila dengan para gay. Lalu Didi dan Fia yang mirip tapi gak kembar. Dan Fia juga mengira dirinya adalah Dodit Mulyanto. oh, iya, sang fenomenal Evi Rose.
Dan untuk semua peserta #KampusFiksiEmas, kalian semua keren temans!
Kali ini saya akan melanjutkan curhatan #KampusFiksiEmas di hari ketiga dan hari terakhir saya di Jogjakarta (Jogjakarta apa Yogyakarta, sih?)
- Hari ketiga, Minggu, 15 Juni 2014; "Lava Tour Merapi!"
Saya tiba-tiba terbangun pukul 5 pagi setelah sebelumnya tidur pukul 2 pagi. Karena masih pagi buta dan suasana di Kaliurang sangat dingin, maka saya putuskan untuk menutup mata sejenak.
Berikutnya saat membuka mata, tau-tau sudah jam 6. Dan saya lupa harusnya hari itu, di jam itu, kami ada jadwal senam bareng sebelum mendaki ke (lagi-lagi saya lupa nama tempatnya apa) untuk melakukan outbound (jadwal semula).
Di pagi itu saya gak mandi. Kenapa? Airnya itu, lho... macam air botolan dari dalam kulkas yang ditumpahin ke bak mandi. Coba deh cari air di dalam kulkas, lalu guyurin ke sekujur tubuh... segitulah rasanya mandi pagi di Kaliurang.
Tapi sepertinya tak ada kegiatan senam di pagi itu, semua sibuk nonton piala dunia. Saat itu Inggris melawan Itali. Dan Inggris kalah. Kata mas Hamid sih, "Inggris kalah gara-gara kebanyakan pemain Liverpool.". Itu kata Mas Hamid lho, ya...
Akhirnya senam kami skip.
Jadwal berikutnya adalah mendaki di jam 7 pagi. Tapi sebelumnya kami sarapan bareng dulu, dong.
| Sarapan bersama... |
Usai sarapan, kami berkumpul di jalanan di depan penginapan. Dikordinasi oleh mas Wahyu.
Di jadwal awal, kami harusnya berjalan kaki menanjak selama 15-20 menit untuk melakukan outbound.
Dan saya tak tau outbound itu yang bagaimana. Soalnya saya kalo kecapekan dikit biasanya dimarahin mama.
Setelah semua peserta dihitung dan diperhitungkan kesanggupannya mendaki, kami pun mendaki bersama.
Di tengah pendakian, ada yang sibuk foto-foto, selfie, ada yang sibuk ngobrol, bercanda, dan ada juga yang sibuk ngos-ngosan (saya).
| Untuk yang ini saya gagal paham. Mau selfie apa nyari sinyal, sih? |
| Mas Sayfull dan Mbak Ita melakukan pose James Bound, karena kita akan OutBound. |
| Dan ini adalah pose favorit saya... |
| Lalu kami sampai pada parkiran elang. Dan entah mengapa kami kembali ke tahun 2010. |
Setelah beribu langkah kami tapaki, berjuta udara pagi kami hirup, miliaran amoeba membelah diri. Akhirnya kami sampai di tujuan.
Ternyata di tempat tujuan, Pak Edi mempunyai kejutan lain untuk kami. Outbound di skip dan diganti dengan "Lava Tour Merapi Pakai Jeep Brum-Brum", dan itu keren bingits! Ini di luar ekspektasi saya. Tentunya lebih menyenangkan.
Semua peserta dan pendukung acara (panitia dan teman-teman DivaPress) dibagi-bagi ke dalam beberapa jeep.
Saya satu jeep dengan Pia, Lia dan Fia (iya, namanya lucu, berurutan). Tapi sayang saya lupa menanyakan nama sang driver jeep yang memboncengi kami, yang saya ingat beliau berkumis tebal. Jadi, kita sebut selanjutnya sebagai Pak Kumis.
Sebelum tour, tentu kami foto-foto dulu, dong...
![]() |
| Keren, ya... |
Menurut beliau, tour ini punya 3 pemberhentian. 1. Museum Sisa Hartaku, 2. Bungker, 3. Batu Alien.
Awalnya perjalanan dengan jeep itu terasa mulusss... tapi di tengah-tengah ternyata seperti menaiki roller coaster.
Pak Kumis dan teman-teman ternyata mempunyai kejutan untuk kami. Beliau melajukan, memainkan dan membuat jeepnya menari-nari di jalanan berbatu. Hingga membuat Pia, Lia dan Fia menjerit-jerit. Sementara saya diam, santai aja, tuh.
Kira-kira seperti ini adegannya;
*Jeep mulai menaiki gundukan bebatuan setinggi satu meter
Pia: AAAKKKK!!!
Lia: AAKKKK!!!
Fia: AAAKKKKK!!!
Saya: *Diam... *Tangan sambil mencengkeram erat besi penyangga jok mobil dengan muka pucat
Melewati beberapa jeritan, akhirnya kami sampai di pemberhentian pertama. "Museum Sisa Hartaku"
Tempat itu adalah kumpulan sisa-sisa harta peninggalan warga yang sudah terkena dampak lahar dan awan panas.
Ada alat musik yang 3/4 bagiannya sudah meleleh, kaset-kaset dan CD musik yang meleleh, monitor komputer yang meleleh, dan semua kenangan di dalamnya ikut meleleh...:(
| Ini dia gerbang masuk ke dalam museum. (Abaikan wajah kami yang tak sadar kamera) |
| Semua barang peninggalan dikumpulkan ke dalam satu rumah ini. |
| Lalu ini tugu pesan Merapi. Saya sedih membacanya... karena gak ngerti artinya...:( |
| Ini kondisi di dalam rumah (museumnya) |
| Ada Pak Edi dan Bunda May juga berpose di depan tulang belulang sapi dan kerangka motor |
| Dan kami semua berpose dengan arahan sang fotografer. |
Setelah puas melihat-lihat isi museum, kami pun melanjutkan tour ke destinasi berikutnya.
Kami menaiki jeepnya Pak Kumis lagi.
Kali ini lebih banyak aksi dipertunjukan oleh Pak Kumis dalam mengendarai jeepnya.
Beliau mengendarai dengan miring, berkelok, dan bergejolak.
Hingga Pia, Lia dan Fia lelah berteriak.
Lalu di suatu masa di atas jeep itu, Lia yang sudah hafal dengan kelakuan Pak Kumis, berkata tidak akan berteriak lagi. Alias diam ajah.
Begini adegannya;
*Pak Kumis melajukan jeep ke arah gundukan batu-batu setinggi 1 meter
Lia: Ah, Kali ini aku mau diam aja.
*5 detik kemudian, jeep mendaki gundukan batu
Lia: AAAKKKKK!!! AAAAAAA!!! AAAAKKKKK!!!!
| Inilah medan yang kami lalui. |
Destinasi berikutnya adalah bungker yang memakan korban 2 orang relawan di erupsi Merapi 2010 lalu.
Setelah itu kami menuju "Batu Alien". Batu yang berbentuk seperti sebuah wajah besar, yang katanya menggelinding dari puncak Merapi.
| Ini dia bungkernya... |
| Kami berfoto di bukit dekat bungker. |
| Mas Sayful dan Elisa berpose di depan batu berwajah, dan mereka tiba-tiba kembali ke tahun 2010. |
Setelah semua destinasi kami datangi, kami pun diantar kembali ke penginapan. Tak lupa kami ucapkan terima kasih pada Pak Kumis.
Akhirnya tibalah kami pada acara penutupan Kampus Fiksi Emas.
Mas Wahyu memulai acara penutupan dengan mempersilahkan Pak Edi untuk memberikan petuah terakhir bagi para peserta.
Isi petuahnya yang saya ingat kurang lebih begini, "Jaga attitude dan emosi. Kita memang tidak bisa menghindari untuk tidak marah, tapi jangan sampai berlebihan. Dan ingatlah untuk selalu berbagi pada sesama, entah itu tentang materi, ilmu, waktu atau apapun."
Setelah sesi Pak Edi, tiba-tiba saya diminta untuk memberikan kesan dan pesan mewakili teman-teman.
Saat itu terlalu mendadak dan saya bingung mau ngomong apa.
Sebenarnya, inilah yang mau saya ucapkan,
"Saya sangat heran dengan kelakuan Pak Edi. Beliau memfasilitasi semua kebutuhan acara Kampus Fiksi. Mulai dari konsumsi, transportasi, akomodasi dan penghargaan kepada peserta. Bahkan hiburan di Lava Tour Merapi tadi. Bahkan mulai dari Kampus Fiksi 1 (hingga kini sudah mencapai angkatan ke-8)
Untuk sebuah acara yang non-profit (karena tak ada spronsor dan tak ada promosi produk) seperti itu, sungguh diperlukan niat dan dedikasi yang sangat besar.
Saya pun sempat bingung, Pak Edi sebenarnya berniat menjadikan DivaPress ini penerbit komersial atau badan amal, sih? Kok ya royal bingits gitu, lho... ustadz dan motivator yang sering roadshow ngasih ceramah aja mungkin gak segitunya bantuin orang secara konkrit. Padahal kami para peserta belum tentu mendatangkan keuntungan buatnya pribadi.
Untuk satu event ini saja, saya bisa memperkirakan biaya yang dikeluarkan tidak kurang dari 20jt. Lalu bayangkan untuk 8 angkatan dan acara Kampus Fiksi Roadshow dan Kampus Fiksi spesial yang juga diadakan oleh beliau. Manusia biasa pasti lebih memilih membeli rumah atau mobil. Perlu diingat lagi, ini adalah acara non-profit. Semua peserta tidak diberi kontrak terikat atau kontrak eksklusif. Semua dibebaskan untuk berkarya di mana pun. Gila, kan?
Itu adalah salah satu alasan kenapa saya mau datang jauh-jauh dari Banjarmasin menuju Jogja. Saya ingin mempelajari semangat beliau. Semangat untuk berbagi. Semangat untuk memulai persahabatan.
Pada dasarnya, semua bukanlah tentang materi. Tapi niat dan tindakan. Semoga semua dari kita mampu menerapkan semangat itu di dalam kehidupan kita masing-masing."
Oke, setelah kesan dan pesan dari saya yang tak terucapkan saat itu, acara dilanjutkan dengan kesan dan pesan dari Evi Rose yang juga datang jauh-jauh dari Palembang.
Setelah itu, simbolis penyerahan piagam kepada perwakilan peserta.
| Piagam diberikan oleh Mbak Rina kepada Rosanti. |
| Piagam diberikan oleh Mbak Rina kepada Mas Adit. |
Kemudian, acara ditutup dengan guyuran air dan teh ke kepala Mas Wahyu sang MC yang dikira sedang berulang tahun. Ternyata hanya hoax yang dbuat oleh Pak Edi untuk... ngerjain Mas Wahyu aja, sih. hehe...
| Rasain! xD |
Saat kami sedang packing, tiba Mbak Ve datang membawa beberapa amplop. Bukan! Itu bukan amplop untuk bujukan memilih capres. Tapi uang saku para peserta yang berjumlah masing-masing 500rb. Horeee!
Berikutnya kami kembali dimobilkan ke asrama Diva.
Di asrama kami mendapat kejutan lagi. Yaitu traktiran pizza dari Mas Sayfull dan Lia. Nyam!
Lalu tiba-tiba udah malam lagi. Di malam terakhir itu kami memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke Malioboro dianterin sama Mas Agus. Dilanjut dengan karaoke di Nav Karaoke.
![]() |
| Reza, Mala, Ghyna, Didi, Fia, Pia, saya, dan Lia. |
![]() |
| Ini Mas Agus yang bercahaya di malam itu... |
Ya... begitulah hari-hari saya di Jogja, #KampusFiksiEmas.
Bertemu dengan orang-orang baru dan unik.
Yang masih terngiang adalah cerita Elisa yang hampir diculik supir travel.Juga ada Farrah yang tergila-gila dengan para gay. Lalu Didi dan Fia yang mirip tapi gak kembar. Dan Fia juga mengira dirinya adalah Dodit Mulyanto. oh, iya, sang fenomenal Evi Rose.
Dan untuk semua peserta #KampusFiksiEmas, kalian semua keren temans!
Subscribe to:
Posts (Atom)





