Karena ini blog isinya sudah terlanjur random, maka ya sudahlah, saya isi aja dengan prediksi pergerakan harga pada pasar forex.
Untuk GBPUSD hari ini tanggal 4 April 2016
Berdasarkan gambar di atas, maka saya mengambil posisi sell di harga 1.4226 untuk pair GBPUSD.
Karena harga di bawah pivot dan di bawah moving average (30)
Saya tempatkan sell limit tepat di harga pivot, jika terjadi kesalahan pada analisa awal saya. Maka akan ada 2 posisi sell yang tebuka. Pokoknya plan hari ini adalah sell.
Untuk EURUSD
Harga masih galau karena berada tepat pada pivot. Sebaiknya hindari dulu pair ini sampai dia mulai sedikit menunjukkan tanda-tanda arah trennya.
Oke, gudlak.
Sunday, April 3, 2016
Saturday, April 2, 2016
Cara Membuat Website Gratis dan Mudah
Sesuai judul, ini adalah tulisan tentang cara membuat website gratis dan mudah. Hanya perlu beberapa langkah maka website kita sudah siap diluncurkan.
Langkah 1: Perkenalan
Kita harus mengenal dulu apa itu website dan apa saja faktor yang bisa mewujudkan website itu. Website adalah ciptaan tuhan dan dengan kehendak-Nya-lah sebuah website akan tercipta. Camkan itu dulu dalam hati. Karena ini langkah yang sangat penting. Apa gunanya punya website bayak tapi tidak beriman? Sungguh dunia hanyalah fana.
Langkah 2: Pedekate
Kita cari tahu hobi dari website dan siapa saja yang dekat dengannya. Jangan belum tahu apa-apa sudah langsung nembak. Ntar ditolak, lho.
Website sangatlah memerlukan hoster untuk bisa online di dunia maya. Hoster adalah penyedia layanan yang bertugas menyimpan data dan menayangkan website.
Langkah 3: Eksekusi
Sesuai judul, ini adalah guide untuk membuat website yang gratis dan mudah. Jadi, yang harus kita lakukan adalah menemukan hoster yang mau nyimpan data dan menayangkan website kita secara gratis.
Banyak sekali hoster di luar sana yang menyediakan layanan gratis. Namun dengan syarat dan ketentuan berlaku tentunya.
Salah satunya adalah Byethost. Beliau menyediakan layanan gratis yang lumayan untuk dimanfaatkan, seperti yang saya terapkan pada situs random saya http://bacaanmu.top/. Control panel yang newbie-friendly dan pilihan sub-domain yang lumayan banyak.
Sign up atau mendaftar dulu kepada beliau. Sebelum daftar, ucap Bismillah dulu, biar berkah.
Setelah mendapat login information, masuklah ke dalam contol panel. Di dalam control panel kita aka ditanyai apakah kita memerlukan bantuan atau tutorial. Bagi yang benar-benar baru mencoba bikin website, ada baiknya cari jodoh.
Setelah itu, pilihlah sub-domain sebagai alamat situs kita nanti. Karena ini layanan gratisan, maka kita hanya diberi pilihan sub-domain. Contohnya domainmu.subdomain.com. Atau kita bisa beli domainnya secara terpisah, jadi alamat situsnya nanti domainku.com. Tapi kalau beli namanya bukan gratis lagi dong. Jadi gak usah belilah.Setelah sub-domain diciptakan, maka data situs kita sudah siap diisi.
Sekali lagi, sesua judul, kita hanya memakai metode paling mudah buat bikin situs. Yaitu install script. Jadi kita gak perlu bikin situs dari kode-kode HTML atau apalah namanya itu. Apalagi kalau kodenya kurang keras. Ntar malah dibilang gak peka.
Installah script melalui softaculous yang terletak di sebelah kiri menu sub-domain tadi.
Melalui installer itu kita bisa install wordpress, situs online shop bahkan forum. Tapi yang paling mudah memang wordpress.
Setelah wordpress terinstall, maka situs kita sudah siap tayang. Tinggal isi kontennya.
Ya, itulah salah satu cara membuat website gratis dan mudah. Semoga bermanfaat bagi saya.
Thursday, March 3, 2016
Kutukan Hotel Lesauch
Jam dua belas malam. Apanya yang jam dua belas? Sial! Aku tidak bisa mengingat apapun kecuali kalimat itu. Aku bahkan tidak ingat kenapa aku ada di tempat ini. Dan rasanya tubuhku lelah sekali, seperti habis berlari ribuan kilometer.
Apa yang terjadi sesungguhnya? Duh, kepalaku keliyengan.
Aku terbangun di tempat asing dan gelap ini beberapa menit yang lalu. Dengan kondisi hilang ingatan sebagian. Maksudku, aku ingat siapa aku, di mana aku tinggal, tapi aku sama sekali tidak ingat kenapa aku di sini sekarang.
Kuambil ponsel dari saku. Tertera di sana tanggal 6 Maret jam dua belas lewat satu menit. Aku tak menemukan bar sinyal. Sial!
Kugunakan torch dari ponsel itu untuk menerangi sekitar tempat aku berada sekarang. Setelah kumelihat sekeliling, perutku langsung mual! Tempat ini sangat mengerikan. Noda yang seperti darah berlumuran di mana-mana, dan aku baru menyadari bau amis yang menusuk.
Aku berjalan entah ke mana. Tak tahu tujuan, yang aku tahu aku harus mencari jalan keluar dari tempat busuk ini. Tempat ini seperti sebuah hotel yang sudah tidak digunakan lagi. Lantai marmernya menguning dan atapnya dipenuhi sarang laba-laba.
Aku terus berjalan ke depan melewati beberapa pintu di sisi kanan dan kiriku, Pintunya terbuat dari besi, catnya mengelupas dan sekarang hanya dihiasi karat. Dan lagi-lagi ada noda darah di setiap gagang pintu itu.
Kreekkk! Bunyi sebuah pintu terbuka pelan di sebelah kananku. Tertulis 202 di bagian atas pintu itu. Lututku lemas, jantung berdegup tak karuan, tanganku seakan mati rasa. Aku punya pilihan untuk melihat ke dalam ruangan menyeramkan itu, atau tetap berjalan ke depan.
Apa yang harus kulakukan?
Kumelangkah ke dalam ruangan. Bau apek dan amis lebih kuat di dalam sini. Kuarahkan torch ke semua penjuru ruangan. Tiba-tiba terdengar suara isakan di bawah ranjang di ruangan itu. Kutelan ludah dan beranikan diri merunduk untuk melihat apa yang ada di bawah sana.
Terlihat samar-samar sosok anak perempuan tiarap dan sedang menangis. "Hey, sedang apa kau di sini? Keluarlah. Cerita padaku. Ayo kita keluar dari tempat menyeramkan ini," ujarku. lalu kuulurkan tanganku untuk menjangkau anak itu, sebuah tindakan yang aku sesali.
"Aaarrggghh! apa yang kau lakukan?!" pekikku. Anak itu menggigit jari telunjukku dengan sangat keras. Sakit sekali, rasanya sampai mau putus. Refleks, kuarahkan torch ke wajahnya. Terlihat jelas sekarang anak itu tak mempunyai mata, bahkan dari rongga matanya keluar puluhan kelabang. Kemudian keluar asap dari wajahnya it, lalu kepalanya mulai mencair seperti magma panas. Aku tak sempat menarik tanganku yang digigitnya tadi sehingga tanganku melepuh dan terbakar oleh cairan itu.
Kejadiannya cepat sekali. Sekarang cairan itu sudah melumat tangan hingga punggungku. Kumelihat hanya tersisa tulang sekarang. Lalu mulai menjalari leher dan wajahku...
END. YOU DIE. BYE!
Aku tidak akan bertindak gila dengan memasuki ruangan seram itu!
Kuteruskan langkahku hingga sampai pada sebuah tangga darurat yang menuju ke atas atau ke bawah. Tentu aku menuju ke bawah. Aku ingin keluar dari tempat ini secepatnya!
Melangkah hati-hati sambil mengedarkan pandangan ke semua penjuru. Terlihat di sebuah dinding bertuliskan, "Lantai B3." Lantai B3? Oh, sial, aku salah arah. Harusnya kunaik ke atas.
Aku pun membalik badan untuk menuju tangga yang satunya. Ke atas. Tapi saat berbalik, tiba-tiba ada sosok anak laki-laki di depanku. Tentu membuatku terperanjak hampir terjungkal.
Anak itu tampak normal. Wajahnya cerah dan bajunya bersih. "Kamu bodoh, ya? Kenapa kamu beraninya memasuki kamar Von dan Vin Lesauch? Rasa penasaran adalah pembunuh yang paling kejam, tau?" tanyanya.
Aku sama sekali tidak tahu apa yang dibicarakannya. "Apa maksudmu? Aku bahkan tidak tahu kenapa aku ada di sini."
Anak itu menggeleng, "Sudah tiga belas tahun sejak terakhir kali ada orang memasuki kamar Von dan Vin. Von akan senang sekali bermain denganmu. Jika ingin selamat, ikutlah denganku."
"Von dan Vin? Siapa mereka? Bermain apa? Apa yang kau bicarakan? Kau siapa?" berondongku dengan pertanyaan pada anak itu.
"Perkenalkan, aku adalah Vin Lesauch. Von adalah saudari kembarku. Dia sangat nakal. Sangat-sangat nakal. Kamu tidak akan selamat jika bertemu dengannya. Ikutlah denganku," jawabnya sambil menyeringai.
Jika kulihat lagi, wajah anak itu mulai terlihat sedikit menakutkan. Apa yang harus kulakukan sekarang?
Sepertinya aku tidak punya pilihan. Rasa takutku akan sedikit berkurang jika ditemani oleh anak itu. Siapa tahu dia benar-benar bisa membantuku keluar dari tempat ini.
Aku pun mengiyakan ajakannya. "Sekarang, kita ke mana?"
Vin mengarahkan telunjukinya ke arah bawah anak tangga. "Ke sana."
"Bukannya di bawah adalah basement? Kita sedang di lantai B3, kan? Harusnya ke atas," saranku padanya.
"Aku tau tempat ini lebih baik dari kamu. Jalan keluarnya di sana. Cepatlah! Sebelum Von datang dan menemukan kita!" perintahnya.
Tidak tahu harus ke mana, aku pun mengikuti perintahnya. Aku berjalan cepat ke arah bawah hingga sampai pada sebuah lantai kosong dan gelap. Kuedarkan torch ke semua arah. Tak ada apapun. Hanya ruang kosong, berdebu dan kotor. "Vin, kau yakin di sini jalan keluarnya?" tanyaku. "Iya..." jawabnya dari arah belakang kepalaku. Anehnya, suaranya terdengar sedikit berat dan benar-benar tepat berada di belakang telingaku. "Jalan keluar menuju alam baka!" sambungnya lagi sambil menggigit leherku.
Aku berontak dan berhasil melepaskan gigitannya dari leherku. Berbalik dan melihat tubuhnya yang kini sudah berubah menjadi sesosok binatang besar dan berbulu seperti manusia serigala. Tapi kepalanya tetap tidak berubah. Vin yang tadi kutemui. Ugh, sangat menyeramkan dan menjijikkan.
Makhluk itu mulai mendekat dengan napasnya yang memburu. "Darahmu segar...ayolah, aku minta lagi," katanya. Darah menetes dari bibirnya.
Sial, aku terperangkap di ruangan ini. Aku berlari dari makhluk itu hingga terpojok pada sebuah tembok.
Makhluk itu dengan cepat menyergapku. Mulutnya menyemburkan sesuatu ke wajahku. Rasanya panas sekali. Lalu dia menggigit kepalaku hingga otakku terburai...
END. YOU DIE. BYE!
Anak itu sangat mencurigakan. Tadi dia bilang apa? Sudah tiga belas tahun? Jika kuperhatikan, dia bahkan belum berusia sebelas tahun. Oh, sial. Jangan bilang dia adalah hantu penunggu tempat ini!
Tanpa pikir panjang, aku mendorong tubuh kecil Vin ke arah dinding dan berlari kencang melewatinya menaiki tangga.
Terdengar suara geraman dari arah belakangku. "Beraninya kamu menolak ajakanku! Akan kucabik-cabik tubuhmu!"
Sial, aku benar. Anak itu bukan manusia. Aku harus cepat keluar dari tempat ini!
Akhirnya aku berhasil naik sampai lantai B1, tinggal satu lantai untuk keluar dari tempat ini. Tapi sial, di depan akses menuju tangga sudah menunggu sesosok makluk berbentuk laba-laba raksasa tapi dengan kepala seorang anak perempuan. Ugh! Hantu yang menjijikan!
"Hai, mau bermain denganku?" tanya monster itu.
"Apa aku punya pilihan lain?" jawabku dengan pertanyaan, pasrah.
Monster laba-laba itu tertawa, lalu menembakan jaring-jaringnya ke kakiku. Buru-buru kurobek dengan kedua tanganku. Aku tidak ingin mati dimakan laba-laba raksasa. Aku pun berlari di dalam koridor hotel entah ke mana. Pokoknya jauh dari monster itu.
Tapi laba-laba itu bergerak cepat sekali menyusuri plafon. Dan melompat tepat di depanku. Ditembakkannya lagi jaringnya hingga membungkus tubuhku dan membuatku terguling di lantai. Kukira itu akan jadi hari terakhirku.
Setelah terguling, ada sesuatu menarik dan mengangkat tubuhku dari lantai. Dia mencakar tubuhku hingga mengoyak jaring laba-laba yang tadi menyelimutiku. Sekarang wajahnya tepat di hadapanku, itu adalah Vin. Anak laki-laki yang kutemui di tangga tadi. Tapi tubuhnya sudah berubah menjadi manusia serigala.
"Apa yang kamu lakukan, Vin?! Dia adalah bagianku!" sentak sang monster laba-laba kepada Vin yang sekarang berbadan besar, kekar dan penuh bulu.
"Sejak kapan ada peraturan dalam menetapkan mangsa, Von?" jawab Vin dengan nada mengolok. "Aku akan mencabik tubuhnya, meminum darahnya dan memakan otaknya!" sambung Vin.
"Tidak boleh! Aku menangkapnya duluan! Aku mau mengulitinya dan menjilati dagingnya!" balas Von.
Vin menggeram dan mulai mengangkat cakarnya siap menerkamku. Sheesshhh! Namun Jaring laba-laba ditembakkan oleh Von ke arah tangan Vin.
"Beraninya kamu!" Vin marah dan berlari ke arah Von, lalu menghamtam tubuh laba-laba raksasa itu dengan bahunya. Hingga Von terpelanting ke belakang.
Vin dan Von akhirnya bertarung dengan ganas. Melupakanku. Kurasa inilah kesempatan terakhirku untuk keluar dari tempat hantu ini. Aku berlari ke arah berlawanan menuju akses tangga darurat. Tinggal satu lantai lagi dan aku menemukan pintu keluar.
Aku terus berlari tanpa melihat ke belakang lagi. Hingga akhirnya melihat sebuat tulisan "Exit" di atas sebuah pintu.
Tapi tiba-tiba pintu terbuka dan muncul sosok lelaki berusia kira-kira lima puluh tahun dari baliknya. Oh, tidak. Jangan lagi.
"Siapa kau? Kenapa ada di sini? Bukankah aku sudah membuat larangan di depan pintu agar tak seorang pun masuk ke dalam kamarku?!" tanyanya dengan wajah penuh amarah.
"Kamar? Kamar apa?! Aku Geralt dan Sumpah! Aku tidak ingat sama sekali kenapa aku ada di tempat ini.
"Tentu saja kau tidak akan ingat. Karena kau sedang berada di hotel kutukan. Kedua anakku, Von dan Vin telah lama mati di hotel ini saat diserang oleh binatang buas yang dilepaskan ke dalam hotel oleh pesaing bisnisku. Dia tidak suka dengan kesuksesan hotelku hingga akhirnya bermain licik!" jelasnya panjang lebar.
"Aku minta maaf jika aku sudah mengganggu kalian. Tapi sekarang aku hanya ingin pulang..." pintaku hampir menangis.
"Ikutlah denganku," ajaknya. Lalu berjalan melewatiku menuju ke bagian dalam hotel. Ah, sial, lagi-lagi aku harus memilih.
Aku sudah berada tepat di depan pintu keluar, kenapa aku harus mengikuti lelaki itu. Siapa yang tahu dia akan berubah menjadi monster menjijikan apa lagi. Kuputuskan untuk mengabaikannya dan berlari melewati pintu.
Aku melangkah keluar pintu. Tapi...tidak ada apapun. Apapun. Benar-benar kosong. Hanya ruang kosong, gelap dan sunyi. Aku berbalik berharap bisa kembali ke dalam hotel dan mencari jalan keluar lain, tapi hotel itu pun sudah menghilang. Aku...sendirian sekarang. Sunyi dan hampa...ini benar-benar kutukan yang mengerikan.
Congratulation! You live but have no life! [Bad ending]
Aku tidak tahu harus percaya padanya atau tidak. Yang jelas, aku yakin bahwa tempat ini bukan berada pada dunia nyata. Dan sudah tentu sebuah pintu tidak akan bisa membawaku pulang. Harapanku hanyalah mengikuti lelaki itu dan menemukan cara mistis untuk pulang. Lagi pula, jika dia ingin membunuhku, dia sudah melakukannya dari tadi, dia tidak akan berjalan melewatiku.
"Tuan, kau siapa?"tanyaku, sambil terus menguntitnya dari belakang.
"Alexander Lesauch, pemilik hotel ini," jawabnya. "Aku sudah membuat kesalahan dengan tetap membiarkan hotel ini berdiri. Harusnya kuhancurkan sejak empat belas tahun yang lalu," sambungnya.
"Sekarang kita ke mana, dan apa yang akan kita lakukan, Tuan Lesauch?" tanyaku lagi
"Kita kembali ke tempat awal kau menyadarkan diri. Kamar 202 di lantai B2, kamar di mana Vin dan Von kehilangan nyawa mereka," jawabnya dengan suara bergetar.
Kembali ke bawah? Oh, tidak. Aku tidak ingin bertemu monster-monster itu lagi. "Tapi kau tahu kan, Tuan, jika anak-anakmu sudah berubah menjadi monster?" tukasku tanpa dipikir dulu. "Oh, maaf, bukan maksudku...maksudku..."
"Tidak apa-apa. Aku tidak menyalahkanmu. Aku yang sudah membuat mereka menjadi monster," balasnya, sekarang dengan nada sedikit terisak. Kurasa dia menangis.
Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya kami sampai di lantai B2 dan di depan kamar 202.
"Oh, ayah...aku merindukanmu..." Kata subuah suara dari dalam kamar gelap itu.
"Aku juga merindukanmu, Ayah. Kamu meninggalkan kami selama tiga belas tahun di hotel terkutuk ini. Ayah ke mana saja selama ini?" Vin keluar dari kegelapan menghampiri kami dengan wujud anak kecilnya.
Diikuti oleh Von. "Bermain berdua tidak menyenangkan, Ayah. Apalagi Vin selalu berbuat curang!" adunya kepada Lesauch dengan polos.
Lesauch menangis sesenggukan. "Mungkin sudah saatnya kalian berhenti berhenti bermain. "
"Apa maksudmu, Ayah?" Vin mulai terlihat kesal. "Tiga belas tahun Ayah menghilang dan sekarang bilang kami tidak boleh lagi bermain?!" tubuh mungil Vin mulai bergerak tak karuan. Rambut dan bulu di sekujur tubuhnya memanjang.
"Geralt, bersiaplah!" perintah Lesauch padaku.
"Bersiap? Bersiap untuk apa?" tanyaku gelagapan.
"Vin, apa yang kamu lakukan?! Kamu mau melukai ayah?! Tenanglah, Vin!" teriak Von
"Aku tidak bodoh seperti kamu, Von. Ayah ke sini setelah tiga belas tahun bukan karena merindukan kita. Tapi karena dia ingin menyelamatkan orang ini!" lolong Vin sambil menunjuk ke arahku. "Setelah itu, dia akan menghancurkan hotel ini dan melenyapkan kita untuk selamanya!" Sekarang tubuh Vin sudah berubah total, kembali menjadi manusia serigala dengan tatapan buas.
Lesauch berlari menuju sebuah meja di dalam kamar itu dan mengambil sebuah buku. "Tangkap ini!" Lalu dilemparnya ke arahku. "Baca halaman terakhir di buku itu dan kamu akan kembali ke dunia nyata!"
Buku itu melewati kepalaku dan jatuh di lantai. Sial! Aku tidak boleh kehilangan tiketku untuk pulang! Aku meluncur di lantai untuk mengambil buku itu, tapi jaring laba-laba menghentikan tanganku untuk meraihnya.
"Ayah, kamu mengecewakan kami!" Sekarang Von yang mulai kesal di dalam tubuh laba-laba raksasanya.
Lesauch berlari ke arahku dan melepaskan tanganku dari jaring laba-laba itu. Namun kemudian Vin menerkamnya dan menyungkurkan tubuhnya ke sudut ruangan.
Aku merangkak meraih buku itu dan berhasil membuka halaman terakhirnya. Kubaca, dan tiba-tiba keluar cahaya sangat terang dari halaman buku itu. Lalu aku tak sadarkan diri
"Sayang, kembalilah. Kuciptakan dunia baru untuk kalian. Aku kan ada di dalamnya setiap jam dua belas malam.
Sayang, kembalilah. Ayah bawakan makanan. Ayah bawakan mainan."
Alexander Lesauch menulis kalimat ini di sebuah buku yang didapatkannya dari seorang dukun di Afrika. Siapapun yang membaca mantra ini akan terbawa ke sebuah dunia khayal di setiap jam dua belas malam.
Untuk kembali ke dunia nyata, seseorang harus membaca bagian akhir dari buku itu. Jika kau sudah terlanjur membaca mantra itu, jangan pejamkan matamu hingga melewati jam dua belas malam. Atau, siapa yang tahu apa yang akan terjadi padamu berikutnya...
Apa yang terjadi sesungguhnya? Duh, kepalaku keliyengan.
Aku terbangun di tempat asing dan gelap ini beberapa menit yang lalu. Dengan kondisi hilang ingatan sebagian. Maksudku, aku ingat siapa aku, di mana aku tinggal, tapi aku sama sekali tidak ingat kenapa aku di sini sekarang.
Kuambil ponsel dari saku. Tertera di sana tanggal 6 Maret jam dua belas lewat satu menit. Aku tak menemukan bar sinyal. Sial!
Kugunakan torch dari ponsel itu untuk menerangi sekitar tempat aku berada sekarang. Setelah kumelihat sekeliling, perutku langsung mual! Tempat ini sangat mengerikan. Noda yang seperti darah berlumuran di mana-mana, dan aku baru menyadari bau amis yang menusuk.
Aku berjalan entah ke mana. Tak tahu tujuan, yang aku tahu aku harus mencari jalan keluar dari tempat busuk ini. Tempat ini seperti sebuah hotel yang sudah tidak digunakan lagi. Lantai marmernya menguning dan atapnya dipenuhi sarang laba-laba.
Aku terus berjalan ke depan melewati beberapa pintu di sisi kanan dan kiriku, Pintunya terbuat dari besi, catnya mengelupas dan sekarang hanya dihiasi karat. Dan lagi-lagi ada noda darah di setiap gagang pintu itu.
Kreekkk! Bunyi sebuah pintu terbuka pelan di sebelah kananku. Tertulis 202 di bagian atas pintu itu. Lututku lemas, jantung berdegup tak karuan, tanganku seakan mati rasa. Aku punya pilihan untuk melihat ke dalam ruangan menyeramkan itu, atau tetap berjalan ke depan.
Apa yang harus kulakukan?
Kumelangkah ke dalam ruangan. Bau apek dan amis lebih kuat di dalam sini. Kuarahkan torch ke semua penjuru ruangan. Tiba-tiba terdengar suara isakan di bawah ranjang di ruangan itu. Kutelan ludah dan beranikan diri merunduk untuk melihat apa yang ada di bawah sana.
Terlihat samar-samar sosok anak perempuan tiarap dan sedang menangis. "Hey, sedang apa kau di sini? Keluarlah. Cerita padaku. Ayo kita keluar dari tempat menyeramkan ini," ujarku. lalu kuulurkan tanganku untuk menjangkau anak itu, sebuah tindakan yang aku sesali.
"Aaarrggghh! apa yang kau lakukan?!" pekikku. Anak itu menggigit jari telunjukku dengan sangat keras. Sakit sekali, rasanya sampai mau putus. Refleks, kuarahkan torch ke wajahnya. Terlihat jelas sekarang anak itu tak mempunyai mata, bahkan dari rongga matanya keluar puluhan kelabang. Kemudian keluar asap dari wajahnya it, lalu kepalanya mulai mencair seperti magma panas. Aku tak sempat menarik tanganku yang digigitnya tadi sehingga tanganku melepuh dan terbakar oleh cairan itu.
Kejadiannya cepat sekali. Sekarang cairan itu sudah melumat tangan hingga punggungku. Kumelihat hanya tersisa tulang sekarang. Lalu mulai menjalari leher dan wajahku...
END. YOU DIE. BYE!
Aku tidak akan bertindak gila dengan memasuki ruangan seram itu!
Kuteruskan langkahku hingga sampai pada sebuah tangga darurat yang menuju ke atas atau ke bawah. Tentu aku menuju ke bawah. Aku ingin keluar dari tempat ini secepatnya!
Melangkah hati-hati sambil mengedarkan pandangan ke semua penjuru. Terlihat di sebuah dinding bertuliskan, "Lantai B3." Lantai B3? Oh, sial, aku salah arah. Harusnya kunaik ke atas.
Aku pun membalik badan untuk menuju tangga yang satunya. Ke atas. Tapi saat berbalik, tiba-tiba ada sosok anak laki-laki di depanku. Tentu membuatku terperanjak hampir terjungkal.
Anak itu tampak normal. Wajahnya cerah dan bajunya bersih. "Kamu bodoh, ya? Kenapa kamu beraninya memasuki kamar Von dan Vin Lesauch? Rasa penasaran adalah pembunuh yang paling kejam, tau?" tanyanya.
Aku sama sekali tidak tahu apa yang dibicarakannya. "Apa maksudmu? Aku bahkan tidak tahu kenapa aku ada di sini."
Anak itu menggeleng, "Sudah tiga belas tahun sejak terakhir kali ada orang memasuki kamar Von dan Vin. Von akan senang sekali bermain denganmu. Jika ingin selamat, ikutlah denganku."
"Von dan Vin? Siapa mereka? Bermain apa? Apa yang kau bicarakan? Kau siapa?" berondongku dengan pertanyaan pada anak itu.
"Perkenalkan, aku adalah Vin Lesauch. Von adalah saudari kembarku. Dia sangat nakal. Sangat-sangat nakal. Kamu tidak akan selamat jika bertemu dengannya. Ikutlah denganku," jawabnya sambil menyeringai.
Jika kulihat lagi, wajah anak itu mulai terlihat sedikit menakutkan. Apa yang harus kulakukan sekarang?
Sepertinya aku tidak punya pilihan. Rasa takutku akan sedikit berkurang jika ditemani oleh anak itu. Siapa tahu dia benar-benar bisa membantuku keluar dari tempat ini.
Aku pun mengiyakan ajakannya. "Sekarang, kita ke mana?"
Vin mengarahkan telunjukinya ke arah bawah anak tangga. "Ke sana."
"Bukannya di bawah adalah basement? Kita sedang di lantai B3, kan? Harusnya ke atas," saranku padanya.
"Aku tau tempat ini lebih baik dari kamu. Jalan keluarnya di sana. Cepatlah! Sebelum Von datang dan menemukan kita!" perintahnya.
Tidak tahu harus ke mana, aku pun mengikuti perintahnya. Aku berjalan cepat ke arah bawah hingga sampai pada sebuah lantai kosong dan gelap. Kuedarkan torch ke semua arah. Tak ada apapun. Hanya ruang kosong, berdebu dan kotor. "Vin, kau yakin di sini jalan keluarnya?" tanyaku. "Iya..." jawabnya dari arah belakang kepalaku. Anehnya, suaranya terdengar sedikit berat dan benar-benar tepat berada di belakang telingaku. "Jalan keluar menuju alam baka!" sambungnya lagi sambil menggigit leherku.
Aku berontak dan berhasil melepaskan gigitannya dari leherku. Berbalik dan melihat tubuhnya yang kini sudah berubah menjadi sesosok binatang besar dan berbulu seperti manusia serigala. Tapi kepalanya tetap tidak berubah. Vin yang tadi kutemui. Ugh, sangat menyeramkan dan menjijikkan.
Makhluk itu mulai mendekat dengan napasnya yang memburu. "Darahmu segar...ayolah, aku minta lagi," katanya. Darah menetes dari bibirnya.
Sial, aku terperangkap di ruangan ini. Aku berlari dari makhluk itu hingga terpojok pada sebuah tembok.
Makhluk itu dengan cepat menyergapku. Mulutnya menyemburkan sesuatu ke wajahku. Rasanya panas sekali. Lalu dia menggigit kepalaku hingga otakku terburai...
END. YOU DIE. BYE!
Anak itu sangat mencurigakan. Tadi dia bilang apa? Sudah tiga belas tahun? Jika kuperhatikan, dia bahkan belum berusia sebelas tahun. Oh, sial. Jangan bilang dia adalah hantu penunggu tempat ini!
Tanpa pikir panjang, aku mendorong tubuh kecil Vin ke arah dinding dan berlari kencang melewatinya menaiki tangga.
Terdengar suara geraman dari arah belakangku. "Beraninya kamu menolak ajakanku! Akan kucabik-cabik tubuhmu!"
Sial, aku benar. Anak itu bukan manusia. Aku harus cepat keluar dari tempat ini!
Akhirnya aku berhasil naik sampai lantai B1, tinggal satu lantai untuk keluar dari tempat ini. Tapi sial, di depan akses menuju tangga sudah menunggu sesosok makluk berbentuk laba-laba raksasa tapi dengan kepala seorang anak perempuan. Ugh! Hantu yang menjijikan!
"Hai, mau bermain denganku?" tanya monster itu.
"Apa aku punya pilihan lain?" jawabku dengan pertanyaan, pasrah.
Monster laba-laba itu tertawa, lalu menembakan jaring-jaringnya ke kakiku. Buru-buru kurobek dengan kedua tanganku. Aku tidak ingin mati dimakan laba-laba raksasa. Aku pun berlari di dalam koridor hotel entah ke mana. Pokoknya jauh dari monster itu.
Tapi laba-laba itu bergerak cepat sekali menyusuri plafon. Dan melompat tepat di depanku. Ditembakkannya lagi jaringnya hingga membungkus tubuhku dan membuatku terguling di lantai. Kukira itu akan jadi hari terakhirku.
Setelah terguling, ada sesuatu menarik dan mengangkat tubuhku dari lantai. Dia mencakar tubuhku hingga mengoyak jaring laba-laba yang tadi menyelimutiku. Sekarang wajahnya tepat di hadapanku, itu adalah Vin. Anak laki-laki yang kutemui di tangga tadi. Tapi tubuhnya sudah berubah menjadi manusia serigala.
"Apa yang kamu lakukan, Vin?! Dia adalah bagianku!" sentak sang monster laba-laba kepada Vin yang sekarang berbadan besar, kekar dan penuh bulu.
"Sejak kapan ada peraturan dalam menetapkan mangsa, Von?" jawab Vin dengan nada mengolok. "Aku akan mencabik tubuhnya, meminum darahnya dan memakan otaknya!" sambung Vin.
"Tidak boleh! Aku menangkapnya duluan! Aku mau mengulitinya dan menjilati dagingnya!" balas Von.
Vin menggeram dan mulai mengangkat cakarnya siap menerkamku. Sheesshhh! Namun Jaring laba-laba ditembakkan oleh Von ke arah tangan Vin.
"Beraninya kamu!" Vin marah dan berlari ke arah Von, lalu menghamtam tubuh laba-laba raksasa itu dengan bahunya. Hingga Von terpelanting ke belakang.
Vin dan Von akhirnya bertarung dengan ganas. Melupakanku. Kurasa inilah kesempatan terakhirku untuk keluar dari tempat hantu ini. Aku berlari ke arah berlawanan menuju akses tangga darurat. Tinggal satu lantai lagi dan aku menemukan pintu keluar.
Aku terus berlari tanpa melihat ke belakang lagi. Hingga akhirnya melihat sebuat tulisan "Exit" di atas sebuah pintu.
Tapi tiba-tiba pintu terbuka dan muncul sosok lelaki berusia kira-kira lima puluh tahun dari baliknya. Oh, tidak. Jangan lagi.
"Siapa kau? Kenapa ada di sini? Bukankah aku sudah membuat larangan di depan pintu agar tak seorang pun masuk ke dalam kamarku?!" tanyanya dengan wajah penuh amarah.
"Kamar? Kamar apa?! Aku Geralt dan Sumpah! Aku tidak ingat sama sekali kenapa aku ada di tempat ini.
"Tentu saja kau tidak akan ingat. Karena kau sedang berada di hotel kutukan. Kedua anakku, Von dan Vin telah lama mati di hotel ini saat diserang oleh binatang buas yang dilepaskan ke dalam hotel oleh pesaing bisnisku. Dia tidak suka dengan kesuksesan hotelku hingga akhirnya bermain licik!" jelasnya panjang lebar.
"Aku minta maaf jika aku sudah mengganggu kalian. Tapi sekarang aku hanya ingin pulang..." pintaku hampir menangis.
"Ikutlah denganku," ajaknya. Lalu berjalan melewatiku menuju ke bagian dalam hotel. Ah, sial, lagi-lagi aku harus memilih.
Aku sudah berada tepat di depan pintu keluar, kenapa aku harus mengikuti lelaki itu. Siapa yang tahu dia akan berubah menjadi monster menjijikan apa lagi. Kuputuskan untuk mengabaikannya dan berlari melewati pintu.
Aku melangkah keluar pintu. Tapi...tidak ada apapun. Apapun. Benar-benar kosong. Hanya ruang kosong, gelap dan sunyi. Aku berbalik berharap bisa kembali ke dalam hotel dan mencari jalan keluar lain, tapi hotel itu pun sudah menghilang. Aku...sendirian sekarang. Sunyi dan hampa...ini benar-benar kutukan yang mengerikan.
Congratulation! You live but have no life! [Bad ending]
Aku tidak tahu harus percaya padanya atau tidak. Yang jelas, aku yakin bahwa tempat ini bukan berada pada dunia nyata. Dan sudah tentu sebuah pintu tidak akan bisa membawaku pulang. Harapanku hanyalah mengikuti lelaki itu dan menemukan cara mistis untuk pulang. Lagi pula, jika dia ingin membunuhku, dia sudah melakukannya dari tadi, dia tidak akan berjalan melewatiku.
"Tuan, kau siapa?"tanyaku, sambil terus menguntitnya dari belakang.
"Alexander Lesauch, pemilik hotel ini," jawabnya. "Aku sudah membuat kesalahan dengan tetap membiarkan hotel ini berdiri. Harusnya kuhancurkan sejak empat belas tahun yang lalu," sambungnya.
"Sekarang kita ke mana, dan apa yang akan kita lakukan, Tuan Lesauch?" tanyaku lagi
"Kita kembali ke tempat awal kau menyadarkan diri. Kamar 202 di lantai B2, kamar di mana Vin dan Von kehilangan nyawa mereka," jawabnya dengan suara bergetar.
Kembali ke bawah? Oh, tidak. Aku tidak ingin bertemu monster-monster itu lagi. "Tapi kau tahu kan, Tuan, jika anak-anakmu sudah berubah menjadi monster?" tukasku tanpa dipikir dulu. "Oh, maaf, bukan maksudku...maksudku..."
"Tidak apa-apa. Aku tidak menyalahkanmu. Aku yang sudah membuat mereka menjadi monster," balasnya, sekarang dengan nada sedikit terisak. Kurasa dia menangis.
Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya kami sampai di lantai B2 dan di depan kamar 202.
"Oh, ayah...aku merindukanmu..." Kata subuah suara dari dalam kamar gelap itu.
"Aku juga merindukanmu, Ayah. Kamu meninggalkan kami selama tiga belas tahun di hotel terkutuk ini. Ayah ke mana saja selama ini?" Vin keluar dari kegelapan menghampiri kami dengan wujud anak kecilnya.
Diikuti oleh Von. "Bermain berdua tidak menyenangkan, Ayah. Apalagi Vin selalu berbuat curang!" adunya kepada Lesauch dengan polos.
Lesauch menangis sesenggukan. "Mungkin sudah saatnya kalian berhenti berhenti bermain. "
"Apa maksudmu, Ayah?" Vin mulai terlihat kesal. "Tiga belas tahun Ayah menghilang dan sekarang bilang kami tidak boleh lagi bermain?!" tubuh mungil Vin mulai bergerak tak karuan. Rambut dan bulu di sekujur tubuhnya memanjang.
"Geralt, bersiaplah!" perintah Lesauch padaku.
"Bersiap? Bersiap untuk apa?" tanyaku gelagapan.
"Vin, apa yang kamu lakukan?! Kamu mau melukai ayah?! Tenanglah, Vin!" teriak Von
"Aku tidak bodoh seperti kamu, Von. Ayah ke sini setelah tiga belas tahun bukan karena merindukan kita. Tapi karena dia ingin menyelamatkan orang ini!" lolong Vin sambil menunjuk ke arahku. "Setelah itu, dia akan menghancurkan hotel ini dan melenyapkan kita untuk selamanya!" Sekarang tubuh Vin sudah berubah total, kembali menjadi manusia serigala dengan tatapan buas.
Lesauch berlari menuju sebuah meja di dalam kamar itu dan mengambil sebuah buku. "Tangkap ini!" Lalu dilemparnya ke arahku. "Baca halaman terakhir di buku itu dan kamu akan kembali ke dunia nyata!"
Buku itu melewati kepalaku dan jatuh di lantai. Sial! Aku tidak boleh kehilangan tiketku untuk pulang! Aku meluncur di lantai untuk mengambil buku itu, tapi jaring laba-laba menghentikan tanganku untuk meraihnya.
"Ayah, kamu mengecewakan kami!" Sekarang Von yang mulai kesal di dalam tubuh laba-laba raksasanya.
Lesauch berlari ke arahku dan melepaskan tanganku dari jaring laba-laba itu. Namun kemudian Vin menerkamnya dan menyungkurkan tubuhnya ke sudut ruangan.
Aku merangkak meraih buku itu dan berhasil membuka halaman terakhirnya. Kubaca, dan tiba-tiba keluar cahaya sangat terang dari halaman buku itu. Lalu aku tak sadarkan diri
"Sayang, kembalilah. Kuciptakan dunia baru untuk kalian. Aku kan ada di dalamnya setiap jam dua belas malam.
Sayang, kembalilah. Ayah bawakan makanan. Ayah bawakan mainan."
Alexander Lesauch menulis kalimat ini di sebuah buku yang didapatkannya dari seorang dukun di Afrika. Siapapun yang membaca mantra ini akan terbawa ke sebuah dunia khayal di setiap jam dua belas malam.
Untuk kembali ke dunia nyata, seseorang harus membaca bagian akhir dari buku itu. Jika kau sudah terlanjur membaca mantra itu, jangan pejamkan matamu hingga melewati jam dua belas malam. Atau, siapa yang tahu apa yang akan terjadi padamu berikutnya...
Wednesday, January 13, 2016
Review Game Final Fantasy 13 (PC version)
Final Fantasy 13 sebenarnya udah lama rilisnya, sekitar tahun 2009. Tapi saya baru menamatkannya sekarang. Karena sejak pertama kali mencoba game ini di konsol PS3 di awal-awal rilisnya, game ini nampak membosankan. Elemen JRPG-nya hampir gak ada, ya macam game adventure dengan linear path.
Tapi, demi kecintaan saya terhadap serial Final Fantasy, jadilah saya mainkan game ini lagi yang versi steam yang baru rilis 2013 silam.
Berdarah-darah dan berderu airmata dalam usaha saya menamatkan game ini. Bukan karena jalan cerita atau adegan yang menyentuh atau apalah-apalah, namun karena 80% progres di game ini sangat membosankan. Gak ada eksplorasi ke secret dungeon (eksplorasi cuma bisa di chapter 11 dan itu udah hampir tamat, wait, what?!), gak ada side quest yang berhubungan dengan main story, gak ada NPC yang memorable. Flat. Iya, semua flat. pppffff!
Sekilas dari main story-nya adalah begini;
Ada beberapa istilah yaitu cocoon, grand pulse, fal'cie, pulse fal'cie dan ci'eth
Cocoon itu ibaratnya bumi di game itu. sedangkan pulse itu 'alam gaib' dunia para monster yg ditakutkan menginvasi cocoon.
Kalo fal'cie itu semacam nabi yg membawa perintah dari sang pencipta dan pembuat takdir.
Lalu ada pulse fal'cie, manusia yg dipaksa jd pesuruh sang fal'cie(nabi) buat menyelesaikan misi2 di dunia. kalo gagal, jadinya ci'eth(monster) dan jiwanya tidak akan tenang. kalo berhasil, dia dihadiahi hidup abadi tp dalam bentuk kristal.
Garis besar ceritanya seperti ini; Tokoh utama Lightning beserta kawan-kawannya berusaha melawan takdir yang disusun oleh sang pencipta yang ingin memusnahkan manusia dengan berbagai cara. Kenapa? Mainkan game-nya untuk tahu jawabannya. hehehe
Untuk storyline-nya sih gak buruk-buruk amat. Cuman ya gak mengesankan kayak FF7, FF8, dan FF12.
Dari segi grafik, untuk game yang keluar di tahun 2009, presentasinya cukup menakjubkan. CGI smooth khas SquareEnix. Gak ada komplain untuk masalah ini.
Dari segi voice akting, ada beberapa percakapan yang terasa kurang berjiwa. Emosinya datar.
Dari segi soundtrack, ini masalah selera sih, namun saya gak terlalu suka dengan soundtrack FF13 ini. Masih kalah telak sama soundtrack FF8.
Dan yang paling penting adalah dari segi gameplay. Battle-nya cukup menyenangkan, makin ke belakang, makin susah, makin ngasih tantangan. Boss battle-nya cukup kampret, tapi itu yang bikin genre JRPG lebih oke dibanding WRPG, tantangannya bikin nge-grind level karakter gak sia-sia.
Monster-monster gigantic di akhir-akhir game bikin penasaran buat ngalahinnya.
Ya, itu aja review dari saya. kalo disuruh ngasih nilai keseluruhan sih, ya maaf aja SquareEnix, game ini cuma bernilai 6 dari 10.
[SPOILER]testestes[/SPOILER]
Thursday, January 7, 2016
Role Playing Blog: Magus dan Kebangkitan Dewa
“Sudah selesai?!” tanya Serel, gadis berbaju zirah yang
terbuat dari baja, pakaian perang khas kerajaan Sandeey kepada seorang pemuda
yang mengenakan jubah hijau pekat di sampingnya yang terlihat sedang merapalkan
mantra dari bibirnya. Wajah gadis itu terlihat sangat panik.
Garyan tersenyum dan menjeda rapalan mantranya,”Apa yang
terjadi pada Serel sang komandan pasukan elit termuda kerajaan Sandeey? Tidak
biasanya terlihat panik seperti ini?” godanya kemudian.
Wajah Serel berubah menjadi sangat frustrasi. “Selesaikan
saja mantramu, Garyan sang magus kepercayaan raja! Aku sedang tidak tertarik
pada candaanmu,” sahutnya sambil menghembuskan napas berat. “Kita harusnya
melindungi raja saat ini, bukannya malah terperangkap di dalam lubang sialan
ini!” sambungnya lagi sambil menebaskan pedang mitrilnya ke dinding berbatu di
sekitarnya hingga menimbulkan percikan api.
Serel dan Garyan terjebak ke dalam lubang bawah tanah
sedalam dua puluh meter dari permukaan. Sebelumnya mereka bertarung melawan
monster dan binatang buas yang tiba-tiba menyerang kerajaan Sandeey. Garyan,
seorang magus kelas atas kerajaan sedang merapalkan mantra sihir untuk memulihkan
kekuatannya dan membawa mereka keluar dari lubang itu.
Di tengah percakapan, secara tak terduga, seekor laba-laba
raksasa melompat dari atas tepat menuju Garyan. Dengan cepat Serel melompat
menerjang tubuh Garyan untuk menyelamatkannya dari serangan sang laba-laba
raksasa. Namun kuku tajam sang laba-laba berhasil mengoyak baju Zirah Serel hingga
melukai punggungnya dan membuat gadis itu tersungkur di atas tanah.
“SEREL!” teriak Garyan. “Laba-laba busuk!” makinya dengan
amarah. Kemudian Garyan mengambil ancang-ancang dan mengarahkan kedua telapak
tangannya di hadapan laba-laba itu. “Ignicius!!” pekiknya, kemudian muncullah
sambaran api yang sangat besar dari sela-sela telapak tangannya, membakar habis
sang laba-laba raksasa.
Setelah memastikan laba-laba itu mati, Garyan segera
memangku tubuh Serel dengan kedua tangannya. “Bertahanlah, Serel, aku akan
membawa kita keluar dari lubang sialan ini segera,” ucapnya dengan nada
setengah berbisik. “Aelius,” rapalnya kemudian.
Seketika muncul pusaran angin dari kaki Garyan, membawa
mereka melayang di udara dan membawa mereka keluar dari lubang itu.
Wednesday, October 14, 2015
Kupanggil Kau Ayah
Jika aku darah, aku akan mengalir dalam hidupmu.
Jika aku tulang, aku akan menopang bebanmu.
Jika aku udara, aku akan menjadi napasmu.
Jika aku manusia...kupanggil kau ayah.
Entah kau, wanita sundel, atau bajingan mana yang sudah membunuhku.
Entah malam, entah siang. Yang kutahu, sudah hilang nyawaku.
Jika aku manusia...kupanggil kau ayah.
Aku tidak menyesal tidak mengenal indahnya dunia.
Aku hanya sedih tidak jadi memiliki seorang ayah.
Ibu, aku ingat aku pernah memilikimu.
Ibu, kenapa aku tidak ingat memiliki seorang ayah.
Hanya saja jika aku manusia, kupanggil kau ayah.
Dunia adalah matahari!
Dunia adalah bulan!
Dunia adalah kilauan!
Dunia adalah apapun! ...Kecuali kamu
Dan aku...tidak akan cinta dunia.
Jika aku manusia, kupanggil kau...
Ayah...
Jika aku tulang, aku akan menopang bebanmu.
Jika aku udara, aku akan menjadi napasmu.
Jika aku manusia...kupanggil kau ayah.
Entah kau, wanita sundel, atau bajingan mana yang sudah membunuhku.
Entah malam, entah siang. Yang kutahu, sudah hilang nyawaku.
Jika aku manusia...kupanggil kau ayah.
Aku tidak menyesal tidak mengenal indahnya dunia.
Aku hanya sedih tidak jadi memiliki seorang ayah.
Ibu, aku ingat aku pernah memilikimu.
Ibu, kenapa aku tidak ingat memiliki seorang ayah.
Hanya saja jika aku manusia, kupanggil kau ayah.
Dunia adalah matahari!
Dunia adalah bulan!
Dunia adalah kilauan!
Dunia adalah apapun! ...Kecuali kamu
Dan aku...tidak akan cinta dunia.
Jika aku manusia, kupanggil kau...
Ayah...
Tuesday, October 6, 2015
Jakarta Great Wall
Jakarta great wall. Dinding hebat sang ibu kota. Pemisah kami dan kamu.
Berapa mayat yang harus kami tumpuk untuk melompati dinding itu?
Sebusuk apa bau bangkai untuk melewati dinding itu?
Kamu yang di sana, membaca tulisan ini sambil bergurau dengan mulut terbuka.
Kami di sini, menulis sambil berduka dengan mulut tertutup. Karena siapa tahu, berikutnya kami membuka mulut, itu adalah saat terakhir paru-paru kami bernapas.
Kami menambang, kamu yang dapat uang.
Kamu mengisap, kami yang kena asap.
Jakarta great wall. Dinding hebat sang ibu kota. Negara kami dan kamu.
Haruskah kami genangi tanah kami dengan air mata untuk berenang ke pucuk dinding itu?
Haruskah kami kucurkan darah sampai jauh agar amisnya sampai di kotamu?
Kamu yang di sana, membaca tulisan ini, mengingat lalu melupakan.
Kami di sini, menulis, menunggu mati lalu dilupakan.
Jakarta Great wall.
Di luar ibu kota, dibunuh kebodohan, dibunuh kemiskinan, dibunuh ketidakpedulian.
Jakarta great wall. Dengarkan, tolong dengarkan.
Suara lirih dari anak-anak sang ibu kota.
Jakarta great wall. Hancurkan, tolong hancurkan.
Berapa mayat yang harus kami tumpuk untuk melompati dinding itu?
Sebusuk apa bau bangkai untuk melewati dinding itu?
Kamu yang di sana, membaca tulisan ini sambil bergurau dengan mulut terbuka.
Kami di sini, menulis sambil berduka dengan mulut tertutup. Karena siapa tahu, berikutnya kami membuka mulut, itu adalah saat terakhir paru-paru kami bernapas.
Kami menambang, kamu yang dapat uang.
Kamu mengisap, kami yang kena asap.
Jakarta great wall. Dinding hebat sang ibu kota. Negara kami dan kamu.
Haruskah kami genangi tanah kami dengan air mata untuk berenang ke pucuk dinding itu?
Haruskah kami kucurkan darah sampai jauh agar amisnya sampai di kotamu?
Kamu yang di sana, membaca tulisan ini, mengingat lalu melupakan.
Kami di sini, menulis, menunggu mati lalu dilupakan.
Jakarta Great wall.
Di luar ibu kota, dibunuh kebodohan, dibunuh kemiskinan, dibunuh ketidakpedulian.
Jakarta great wall. Dengarkan, tolong dengarkan.
Suara lirih dari anak-anak sang ibu kota.
Jakarta great wall. Hancurkan, tolong hancurkan.
Monday, September 28, 2015
Monolog Sakit
Aku ingin menjadi luka biasa. Yang jika kutahan sakitnya, besok atau bahkan malam nanti sakitnya sudah sembuh. Tapi sepagian ini bukanlah pesuruhku. Pun hatiku, pun hidupku. Semua masa bodoh dengan inginku.
Malam tadi jelas bukan luka biasa. Yang jika kuingat sakitnya, besok atau bahkan selamanya takkan hilang. Sungguh sepagian ini aku hidup di masa lampau. Pun ingatanku, pun kenanganku. Semakin aku pernah bahagia, semakin sakit rasanya.
Aku masih menjamah jemarimu hari ini setahun yang lalu, tiga tahun yang lalu, dan tahun-tahun sebelumnya. Masih merasakan napasmu di atas bibirku, saling menatap di kamar mandi tempat favorit kita, di mana tak seorangpun tahu cintaku padamu. Cintamu padaku. Hanya ada kita. Aku masih ingat semua.
Saat menemuimu di atas ranjang di pagi buta, merapikan rambutmu juga pakaianmu, menyuapkan makan pagi ke mulutmu, hingga tiba butanya malam, selalu menemanimu. Di mana kamu ada, aku ada. Dan betapa kumengagumi indah wujudmu setiap hari. Aku masih ingat semua.
Tapi bulan purnama di malam tadi adalah yang terakhir kita saksikan bersama. Oh, kejamnya hidup. Oh, irinya dunia. Selalu mereka pisahkan cinta sejati dengan kematian. Layaknya Romeo dan Juliet, Tidus dan Yuna, Aeris dan Zack. Dan tiba masanya kamu dan aku.
Aku masih ingin semua ini hanyalah luka biasa. Yang jika besok aku membuka mata, semua kembali seperti biasa. Tapi masa bodohlah dengan inginku. Saatnya kuucapkan selamat tinggal dan kubawa sakit ini sampai di kehidupan berikutnya.
Selamat tinggal... kamu, aku. Kita.
Malam tadi jelas bukan luka biasa. Yang jika kuingat sakitnya, besok atau bahkan selamanya takkan hilang. Sungguh sepagian ini aku hidup di masa lampau. Pun ingatanku, pun kenanganku. Semakin aku pernah bahagia, semakin sakit rasanya.
Aku masih menjamah jemarimu hari ini setahun yang lalu, tiga tahun yang lalu, dan tahun-tahun sebelumnya. Masih merasakan napasmu di atas bibirku, saling menatap di kamar mandi tempat favorit kita, di mana tak seorangpun tahu cintaku padamu. Cintamu padaku. Hanya ada kita. Aku masih ingat semua.
Saat menemuimu di atas ranjang di pagi buta, merapikan rambutmu juga pakaianmu, menyuapkan makan pagi ke mulutmu, hingga tiba butanya malam, selalu menemanimu. Di mana kamu ada, aku ada. Dan betapa kumengagumi indah wujudmu setiap hari. Aku masih ingat semua.
Tapi bulan purnama di malam tadi adalah yang terakhir kita saksikan bersama. Oh, kejamnya hidup. Oh, irinya dunia. Selalu mereka pisahkan cinta sejati dengan kematian. Layaknya Romeo dan Juliet, Tidus dan Yuna, Aeris dan Zack. Dan tiba masanya kamu dan aku.
Aku masih ingin semua ini hanyalah luka biasa. Yang jika besok aku membuka mata, semua kembali seperti biasa. Tapi masa bodohlah dengan inginku. Saatnya kuucapkan selamat tinggal dan kubawa sakit ini sampai di kehidupan berikutnya.
Selamat tinggal... kamu, aku. Kita.
Wednesday, July 16, 2014
Pekerjaan Semesta
Suatu
hari aku berbuat sesuatu yang kuyakini benar. Melakukan apapun untuk
mencapai tujuan. Bahkan dengan menistakan musuh. Idealisme buta.
Hingga di sebuah taman di bawah mendung, anakku yang berumur 10 tahun mendekati dan berkata,
"Ayah, aku belajar di sekolah, kalau awan itu mengambil air dari bumi. Lalu jika sudah hitam pekat, airnya akan kembali ke bumi. Hujan. Deras," katanya sambil menunjuk gumpalan awan di atas kepala kami.
"Pintar!" sahutku sambil mengangkatnya ke udara. Kemudian kuciumi wajahnya dengan kasih sayang.
"Sama dengan pekerjaan semesta." Seorang lelaki tua, kira-kira sudah berusia lebih dari setengah abad, tiba-tiba berdiri di sebelah kami.
Aku menatap lelaki itu dengan risih.
"Semesta merekam semua perbuatan dan perkataanmu. Lalu suatu hari pasti dikembalikan lagi kepadamu. Jika tidak, pada anakmu. Jika tidak, pada cucumu."
"Bicara apa kau?"
"Aku bicara tentang 'karma'. Seperti air dari bumi, ke langit, lalu kembali ke bumi. Deras. Hunjam. Kita menyebutnya hujan. Tapi bagi semesta, itu adalah karma," jawab lelaki itu, lalu berjalan menjauh tanpa menoleh lagi.
Karma?
Kepalaku terus mengulang-ulang kata itu.
Aku memandangi anakku yang dari tadi ada di pelukanku. Kuhayati tawanya di dalam telingaku. Kuresapi senyumnya, bahagianya, ke dalam hatiku.
Itu adalah pertama kalinya aku takut memperjuangkan idealisme-ku...
_______________
Cerpen "Idealisme dan Karma"
Tidak ada orang jahat di dunia ini. Kita hanya memperjuangkan keyakinan yang berbeda, hingga semesta menghakimi salah atau benar.
Hingga di sebuah taman di bawah mendung, anakku yang berumur 10 tahun mendekati dan berkata,
"Ayah, aku belajar di sekolah, kalau awan itu mengambil air dari bumi. Lalu jika sudah hitam pekat, airnya akan kembali ke bumi. Hujan. Deras," katanya sambil menunjuk gumpalan awan di atas kepala kami.
"Pintar!" sahutku sambil mengangkatnya ke udara. Kemudian kuciumi wajahnya dengan kasih sayang.
"Sama dengan pekerjaan semesta." Seorang lelaki tua, kira-kira sudah berusia lebih dari setengah abad, tiba-tiba berdiri di sebelah kami.
Aku menatap lelaki itu dengan risih.
"Semesta merekam semua perbuatan dan perkataanmu. Lalu suatu hari pasti dikembalikan lagi kepadamu. Jika tidak, pada anakmu. Jika tidak, pada cucumu."
"Bicara apa kau?"
"Aku bicara tentang 'karma'. Seperti air dari bumi, ke langit, lalu kembali ke bumi. Deras. Hunjam. Kita menyebutnya hujan. Tapi bagi semesta, itu adalah karma," jawab lelaki itu, lalu berjalan menjauh tanpa menoleh lagi.
Karma?
Kepalaku terus mengulang-ulang kata itu.
Aku memandangi anakku yang dari tadi ada di pelukanku. Kuhayati tawanya di dalam telingaku. Kuresapi senyumnya, bahagianya, ke dalam hatiku.
Itu adalah pertama kalinya aku takut memperjuangkan idealisme-ku...
_______________
Cerpen "Idealisme dan Karma"
Tidak ada orang jahat di dunia ini. Kita hanya memperjuangkan keyakinan yang berbeda, hingga semesta menghakimi salah atau benar.
Wednesday, June 18, 2014
Curhatan #KampusFiksiEmas Part 2
Halo temans...
Kali ini saya akan melanjutkan curhatan #KampusFiksiEmas di hari ketiga dan hari terakhir saya di Jogjakarta (Jogjakarta apa Yogyakarta, sih?)
- Hari ketiga, Minggu, 15 Juni 2014; "Lava Tour Merapi!"
Setelah semua peserta dihitung dan diperhitungkan kesanggupannya mendaki, kami pun mendaki bersama.
Di tengah pendakian, ada yang sibuk foto-foto, selfie, ada yang sibuk ngobrol, bercanda, dan ada juga yang sibuk ngos-ngosan (saya).
Setelah foto-foto, Pak Kumis pun mengendarai jeepnya....
Menurut beliau, tour ini punya 3 pemberhentian. 1. Museum Sisa Hartaku, 2. Bungker, 3. Batu Alien.
Awalnya perjalanan dengan jeep itu terasa mulusss... tapi di tengah-tengah ternyata seperti menaiki roller coaster.
Pak Kumis dan teman-teman ternyata mempunyai kejutan untuk kami. Beliau melajukan, memainkan dan membuat jeepnya menari-nari di jalanan berbatu. Hingga membuat Pia, Lia dan Fia menjerit-jerit. Sementara saya diam, santai aja, tuh.
Kira-kira seperti ini adegannya;
*Jeep mulai menaiki gundukan bebatuan setinggi satu meter
Pia: AAAKKKK!!!
Lia: AAKKKK!!!
Fia: AAAKKKKK!!!
Saya: *Diam... *Tangan sambil mencengkeram erat besi penyangga jok mobil dengan muka pucat
Melewati beberapa jeritan, akhirnya kami sampai di pemberhentian pertama. "Museum Sisa Hartaku"
Tempat itu adalah kumpulan sisa-sisa harta peninggalan warga yang sudah terkena dampak lahar dan awan panas.
Ada alat musik yang 3/4 bagiannya sudah meleleh, kaset-kaset dan CD musik yang meleleh, monitor komputer yang meleleh, dan semua kenangan di dalamnya ikut meleleh...:(
Setelah puas melihat-lihat isi museum, kami pun melanjutkan tour ke destinasi berikutnya.
Kami menaiki jeepnya Pak Kumis lagi.
Kali ini lebih banyak aksi dipertunjukan oleh Pak Kumis dalam mengendarai jeepnya.
Beliau mengendarai dengan miring, berkelok, dan bergejolak.
Hingga Pia, Lia dan Fia lelah berteriak.
Lalu di suatu masa di atas jeep itu, Lia yang sudah hafal dengan kelakuan Pak Kumis, berkata tidak akan berteriak lagi. Alias diam ajah.
Begini adegannya;
*Pak Kumis melajukan jeep ke arah gundukan batu-batu setinggi 1 meter
Lia: Ah, Kali ini aku mau diam aja.
*5 detik kemudian, jeep mendaki gundukan batu
Lia: AAAKKKKK!!! AAAAAAA!!! AAAAKKKKK!!!!
Destinasi berikutnya adalah bungker yang memakan korban 2 orang relawan di erupsi Merapi 2010 lalu.
Setelah itu kami menuju "Batu Alien". Batu yang berbentuk seperti sebuah wajah besar, yang katanya menggelinding dari puncak Merapi.
Juga ada Farrah yang tergila-gila dengan para gay. Lalu Didi dan Fia yang mirip tapi gak kembar. Dan Fia juga mengira dirinya adalah Dodit Mulyanto. oh, iya, sang fenomenal Evi Rose.
Dan untuk semua peserta #KampusFiksiEmas, kalian semua keren temans!
Kali ini saya akan melanjutkan curhatan #KampusFiksiEmas di hari ketiga dan hari terakhir saya di Jogjakarta (Jogjakarta apa Yogyakarta, sih?)
- Hari ketiga, Minggu, 15 Juni 2014; "Lava Tour Merapi!"
Saya tiba-tiba terbangun pukul 5 pagi setelah sebelumnya tidur pukul 2 pagi. Karena masih pagi buta dan suasana di Kaliurang sangat dingin, maka saya putuskan untuk menutup mata sejenak.
Berikutnya saat membuka mata, tau-tau sudah jam 6. Dan saya lupa harusnya hari itu, di jam itu, kami ada jadwal senam bareng sebelum mendaki ke (lagi-lagi saya lupa nama tempatnya apa) untuk melakukan outbound (jadwal semula).
Di pagi itu saya gak mandi. Kenapa? Airnya itu, lho... macam air botolan dari dalam kulkas yang ditumpahin ke bak mandi. Coba deh cari air di dalam kulkas, lalu guyurin ke sekujur tubuh... segitulah rasanya mandi pagi di Kaliurang.
Tapi sepertinya tak ada kegiatan senam di pagi itu, semua sibuk nonton piala dunia. Saat itu Inggris melawan Itali. Dan Inggris kalah. Kata mas Hamid sih, "Inggris kalah gara-gara kebanyakan pemain Liverpool.". Itu kata Mas Hamid lho, ya...
Akhirnya senam kami skip.
Jadwal berikutnya adalah mendaki di jam 7 pagi. Tapi sebelumnya kami sarapan bareng dulu, dong.
| Sarapan bersama... |
Usai sarapan, kami berkumpul di jalanan di depan penginapan. Dikordinasi oleh mas Wahyu.
Di jadwal awal, kami harusnya berjalan kaki menanjak selama 15-20 menit untuk melakukan outbound.
Dan saya tak tau outbound itu yang bagaimana. Soalnya saya kalo kecapekan dikit biasanya dimarahin mama.
Setelah semua peserta dihitung dan diperhitungkan kesanggupannya mendaki, kami pun mendaki bersama.
Di tengah pendakian, ada yang sibuk foto-foto, selfie, ada yang sibuk ngobrol, bercanda, dan ada juga yang sibuk ngos-ngosan (saya).
| Untuk yang ini saya gagal paham. Mau selfie apa nyari sinyal, sih? |
| Mas Sayfull dan Mbak Ita melakukan pose James Bound, karena kita akan OutBound. |
| Dan ini adalah pose favorit saya... |
| Lalu kami sampai pada parkiran elang. Dan entah mengapa kami kembali ke tahun 2010. |
Setelah beribu langkah kami tapaki, berjuta udara pagi kami hirup, miliaran amoeba membelah diri. Akhirnya kami sampai di tujuan.
Ternyata di tempat tujuan, Pak Edi mempunyai kejutan lain untuk kami. Outbound di skip dan diganti dengan "Lava Tour Merapi Pakai Jeep Brum-Brum", dan itu keren bingits! Ini di luar ekspektasi saya. Tentunya lebih menyenangkan.
Semua peserta dan pendukung acara (panitia dan teman-teman DivaPress) dibagi-bagi ke dalam beberapa jeep.
Saya satu jeep dengan Pia, Lia dan Fia (iya, namanya lucu, berurutan). Tapi sayang saya lupa menanyakan nama sang driver jeep yang memboncengi kami, yang saya ingat beliau berkumis tebal. Jadi, kita sebut selanjutnya sebagai Pak Kumis.
Sebelum tour, tentu kami foto-foto dulu, dong...
![]() |
| Keren, ya... |
Menurut beliau, tour ini punya 3 pemberhentian. 1. Museum Sisa Hartaku, 2. Bungker, 3. Batu Alien.
Awalnya perjalanan dengan jeep itu terasa mulusss... tapi di tengah-tengah ternyata seperti menaiki roller coaster.
Pak Kumis dan teman-teman ternyata mempunyai kejutan untuk kami. Beliau melajukan, memainkan dan membuat jeepnya menari-nari di jalanan berbatu. Hingga membuat Pia, Lia dan Fia menjerit-jerit. Sementara saya diam, santai aja, tuh.
Kira-kira seperti ini adegannya;
*Jeep mulai menaiki gundukan bebatuan setinggi satu meter
Pia: AAAKKKK!!!
Lia: AAKKKK!!!
Fia: AAAKKKKK!!!
Saya: *Diam... *Tangan sambil mencengkeram erat besi penyangga jok mobil dengan muka pucat
Melewati beberapa jeritan, akhirnya kami sampai di pemberhentian pertama. "Museum Sisa Hartaku"
Tempat itu adalah kumpulan sisa-sisa harta peninggalan warga yang sudah terkena dampak lahar dan awan panas.
Ada alat musik yang 3/4 bagiannya sudah meleleh, kaset-kaset dan CD musik yang meleleh, monitor komputer yang meleleh, dan semua kenangan di dalamnya ikut meleleh...:(
| Ini dia gerbang masuk ke dalam museum. (Abaikan wajah kami yang tak sadar kamera) |
| Semua barang peninggalan dikumpulkan ke dalam satu rumah ini. |
| Lalu ini tugu pesan Merapi. Saya sedih membacanya... karena gak ngerti artinya...:( |
| Ini kondisi di dalam rumah (museumnya) |
| Ada Pak Edi dan Bunda May juga berpose di depan tulang belulang sapi dan kerangka motor |
| Dan kami semua berpose dengan arahan sang fotografer. |
Setelah puas melihat-lihat isi museum, kami pun melanjutkan tour ke destinasi berikutnya.
Kami menaiki jeepnya Pak Kumis lagi.
Kali ini lebih banyak aksi dipertunjukan oleh Pak Kumis dalam mengendarai jeepnya.
Beliau mengendarai dengan miring, berkelok, dan bergejolak.
Hingga Pia, Lia dan Fia lelah berteriak.
Lalu di suatu masa di atas jeep itu, Lia yang sudah hafal dengan kelakuan Pak Kumis, berkata tidak akan berteriak lagi. Alias diam ajah.
Begini adegannya;
*Pak Kumis melajukan jeep ke arah gundukan batu-batu setinggi 1 meter
Lia: Ah, Kali ini aku mau diam aja.
*5 detik kemudian, jeep mendaki gundukan batu
Lia: AAAKKKKK!!! AAAAAAA!!! AAAAKKKKK!!!!
| Inilah medan yang kami lalui. |
Destinasi berikutnya adalah bungker yang memakan korban 2 orang relawan di erupsi Merapi 2010 lalu.
Setelah itu kami menuju "Batu Alien". Batu yang berbentuk seperti sebuah wajah besar, yang katanya menggelinding dari puncak Merapi.
| Ini dia bungkernya... |
| Kami berfoto di bukit dekat bungker. |
| Mas Sayful dan Elisa berpose di depan batu berwajah, dan mereka tiba-tiba kembali ke tahun 2010. |
Setelah semua destinasi kami datangi, kami pun diantar kembali ke penginapan. Tak lupa kami ucapkan terima kasih pada Pak Kumis.
Akhirnya tibalah kami pada acara penutupan Kampus Fiksi Emas.
Mas Wahyu memulai acara penutupan dengan mempersilahkan Pak Edi untuk memberikan petuah terakhir bagi para peserta.
Isi petuahnya yang saya ingat kurang lebih begini, "Jaga attitude dan emosi. Kita memang tidak bisa menghindari untuk tidak marah, tapi jangan sampai berlebihan. Dan ingatlah untuk selalu berbagi pada sesama, entah itu tentang materi, ilmu, waktu atau apapun."
Setelah sesi Pak Edi, tiba-tiba saya diminta untuk memberikan kesan dan pesan mewakili teman-teman.
Saat itu terlalu mendadak dan saya bingung mau ngomong apa.
Sebenarnya, inilah yang mau saya ucapkan,
"Saya sangat heran dengan kelakuan Pak Edi. Beliau memfasilitasi semua kebutuhan acara Kampus Fiksi. Mulai dari konsumsi, transportasi, akomodasi dan penghargaan kepada peserta. Bahkan hiburan di Lava Tour Merapi tadi. Bahkan mulai dari Kampus Fiksi 1 (hingga kini sudah mencapai angkatan ke-8)
Untuk sebuah acara yang non-profit (karena tak ada spronsor dan tak ada promosi produk) seperti itu, sungguh diperlukan niat dan dedikasi yang sangat besar.
Saya pun sempat bingung, Pak Edi sebenarnya berniat menjadikan DivaPress ini penerbit komersial atau badan amal, sih? Kok ya royal bingits gitu, lho... ustadz dan motivator yang sering roadshow ngasih ceramah aja mungkin gak segitunya bantuin orang secara konkrit. Padahal kami para peserta belum tentu mendatangkan keuntungan buatnya pribadi.
Untuk satu event ini saja, saya bisa memperkirakan biaya yang dikeluarkan tidak kurang dari 20jt. Lalu bayangkan untuk 8 angkatan dan acara Kampus Fiksi Roadshow dan Kampus Fiksi spesial yang juga diadakan oleh beliau. Manusia biasa pasti lebih memilih membeli rumah atau mobil. Perlu diingat lagi, ini adalah acara non-profit. Semua peserta tidak diberi kontrak terikat atau kontrak eksklusif. Semua dibebaskan untuk berkarya di mana pun. Gila, kan?
Itu adalah salah satu alasan kenapa saya mau datang jauh-jauh dari Banjarmasin menuju Jogja. Saya ingin mempelajari semangat beliau. Semangat untuk berbagi. Semangat untuk memulai persahabatan.
Pada dasarnya, semua bukanlah tentang materi. Tapi niat dan tindakan. Semoga semua dari kita mampu menerapkan semangat itu di dalam kehidupan kita masing-masing."
Oke, setelah kesan dan pesan dari saya yang tak terucapkan saat itu, acara dilanjutkan dengan kesan dan pesan dari Evi Rose yang juga datang jauh-jauh dari Palembang.
Setelah itu, simbolis penyerahan piagam kepada perwakilan peserta.
| Piagam diberikan oleh Mbak Rina kepada Rosanti. |
| Piagam diberikan oleh Mbak Rina kepada Mas Adit. |
Kemudian, acara ditutup dengan guyuran air dan teh ke kepala Mas Wahyu sang MC yang dikira sedang berulang tahun. Ternyata hanya hoax yang dbuat oleh Pak Edi untuk... ngerjain Mas Wahyu aja, sih. hehe...
| Rasain! xD |
Saat kami sedang packing, tiba Mbak Ve datang membawa beberapa amplop. Bukan! Itu bukan amplop untuk bujukan memilih capres. Tapi uang saku para peserta yang berjumlah masing-masing 500rb. Horeee!
Berikutnya kami kembali dimobilkan ke asrama Diva.
Di asrama kami mendapat kejutan lagi. Yaitu traktiran pizza dari Mas Sayfull dan Lia. Nyam!
Lalu tiba-tiba udah malam lagi. Di malam terakhir itu kami memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke Malioboro dianterin sama Mas Agus. Dilanjut dengan karaoke di Nav Karaoke.
![]() |
| Reza, Mala, Ghyna, Didi, Fia, Pia, saya, dan Lia. |
![]() |
| Ini Mas Agus yang bercahaya di malam itu... |
Ya... begitulah hari-hari saya di Jogja, #KampusFiksiEmas.
Bertemu dengan orang-orang baru dan unik.
Yang masih terngiang adalah cerita Elisa yang hampir diculik supir travel.Juga ada Farrah yang tergila-gila dengan para gay. Lalu Didi dan Fia yang mirip tapi gak kembar. Dan Fia juga mengira dirinya adalah Dodit Mulyanto. oh, iya, sang fenomenal Evi Rose.
Dan untuk semua peserta #KampusFiksiEmas, kalian semua keren temans!
Tuesday, June 17, 2014
Curhatan #KampusFiksiEmas Part 1
Semburat subuh di dini hari itu, membunuh jingga di mata kuning dan oranye langit... *plak! Dikeplak mimin KF gara-gara pakai narasi pembuka alam semesta.
Oke, langsung aja ya, vrooh... Apa itu event Kampus Fiksi? Sebuah acara yang diselenggarakan oleh penerbit DivaPress sebagai pembuka mata batin calon penulis fiksi/non-fiksi yang sedang mencari wadah untuk berbagi proses kreatif dalam menciptakan sebuah karya tulis.
Dibuka luas untuk umum (baik jomblo ataupun yang taken), semua bebas bergabung. Tapi dibatasi hanya 30 peserta untuk setiap angkatan, dan berikutnya disebut angkatan Kampus Fiksi Reguler.
Nah, Kampus Fiksi Emas adalah seleksi dari ratusan angkatan Kampus Fiksi Reguler yang dikerucutkan lagi menjadi total 20 peserta terbaik (saya salah satunya. Keren, ya...).
Intinya, kami 20 orang peserta Kampus Fiksi Emas adalah manusia-manusia pilihan alam semesta. Dan itu maktub!
Oh, iya. Semua fasilitas selama kegiatan baik narasumber, akomodasi, transportasi dan konsumsi diberikan gratis tis tis!
Oh, iya. Semua fasilitas selama kegiatan baik narasumber, akomodasi, transportasi dan konsumsi diberikan gratis tis tis!
Sesuai judul post, berikut ini adalah curhatan saya;
- Hari pertama, Jumat, 13 Juni 2014; "8 jam perjalanan dengan kereta, dan gue gak bisa tidur, vroh"
Saya dan Pia mengarungi rel kereta api bersama di Kamis malam mulai pukul setengah 8 dari Bandung. Estimasi sampai di Jogja pukul 3 pagi. Ini adalah perjalanan kereta api pertama kali dalam hidup kami masing-masing.
Dan layaknya penumpang alay lainnya, kami pun selfie sejenak di dalam kereta.
Hehehe. *abaikan saja bagian selfie ini
Di dalam kereta yang menempuh perjalanan 8 jam ini, kami melakukan hal-hal menarik untuk mengusir bosan. Yaitu, duduk, ngobrol, duduk, ngorol, duduk. Dan, 8 jam pun terasa ringan...(tapi, bohong!)
Akhirnya kami pun sampai di stasiun Tugu dijemput oleh Kang Kiki dan teman-teman DivaPress. Lalu dimobilkan langsung ke TKP (asrama Diva yang alamatnya saya lupa di mana, hehe)
Kami sampai di asrama pukul 4 pagi. Disambut dengan tidak ada penyambutan, karena hampir semua orang sudah tertidur. Bahkan semua ruangan sudah dimatikan lampunya, agar yang lain bisa tidur dengan khidmat.
Karena saya belum bisa tidur, jadi saya bangunkan saja teman-teman yang lain seperti Lia, Fia, Farrah, Mas Sayful, Reza yang sedang tidur-tiduran di ruang tengah asrama. Setelah mereka terbangun, saatnya saya tidur.
***
Waktu pun berlari... tau-tau sudah jam 7 pagi aja. Saya dan yang lainnya pun berebut kamar mandi untuk bersiap-siap karena acara kita hari itu akan dimulai jam 8 pagi.
Hari pertama Kampus Fiksi Emas sangatlah padat. Akan ada praktik nulis cerpen spontan 2,5 jam dan pengadilan karya cerpen masing-masing.
Acara dibuka oleh Mas Wahyu, MC kita yang sangat komunikatif...
| Ini lho orangnya yang make everything happens, yang uangnya sepertinya unlimited...xD |
Dan dilanjutkan sambutan oleh Pak Edi, CEO DivaPress sekaligus penggagas acara ini, sambil memegangi buku kumcer para peserta Kampus Fiksi Emas.
"Gadis 360 Hari Yang Lalu"
Setelah beliau memberikan sepatah dua patah dan akhirnya menjadi patah-patahan kata yang bertaburan di lantai otak kami masing-masing...(cieileehh diksi lu, vrooohhh)
Tibalah saatnya sesi menulis cerpen spontan dengan tenggat waktu maksimal 2,5 jam! Dengan tema yang ditentukan oleh panitia. Duh!
Sontak saja muka-muka yang tadinya riang menjadi meriang. Bahkan otak saya pribadi sempat berteriak, "Lepaskan akuuu! Hentikan! Aku lagi gak pengin mikir beraattt!! Hentikaaannn!!
Yap! 2,5 jam untuk 1 cerpen dan harus selesai, soalnya akan di-post web resmi Kampus Fiksi (kampusfiksi.com) dan tanpa sentuhan editor. Jadi, publik melihat kemampuan murni para peserta tanpa bantuan siapapun.
Tapi, karena kami adalah manusia-manusia pilihan semesta, kami pun melewatinya dengan mudah... (mudah-mudahan gak malu-maluin)
Setelah itu, saatnya ishoma. Istirahat, makan. Yang lelaki sholat Jumat, yang perempuan juga sholat Jumat (karena hari itu hari Jumat)
***
Jam dinding menunjukan pukul 13:00. Saatnya pengadilan karya yang terdengar mengerikan itu.
Saya (Ersa Yusfiyandi), Reza Nufa dan Adityarakhman dapat giliran pertama diadili oleh Mbak Ita.
Editor kece yang satu itu menghajar karya saya sampai babak belur dan diamini dengan tawa oleh seisi ruangan :(
| Ini dia aksi Mbak Ita saat jadi judge bagi cerpen kami. |
| Dan saya cuma bisa menutupi wajah ganteng saya... |
Berbeda dengan Reza Nufa dan Adityarakhman yang mampu memberi pembelaan terhadap karya mereka masing-masing, saya memilih pasrah saja. Karena saya cinta damai...anak pantai...santai...
Di tengah acara sempat mati listrik sejenak, tapi tetap dilanjutkan sampai semua peserta kebagian diadili karyanya.
Yang masih melekat di kepala saya adalah gaya Mbak Ve dalam mengadili karya yang begitu ekspresif. Dan the famous Bambang pun is born.
***
Kami pun menghabisi Jumat malam dengan berbincang, makan, dan tidur.
Saya jadi lebih mengenal Pia, Lia, Fia, Farrah, Didi, Elisa, Ghyna, Mufi, Vivi, Mas ipul (wajahmu itu lho, mas, menggelayuti pikiranku terus), Mas Adit dan Nadia, Mbak Indah, Evi dan Mala, Mbak Nurul, Rosanti dan Reza Nufa yang terkenal itu.
Minus Reni yang ternyata sedang sakit saat itu. Cepat sehat, ya, Ren!
***
- Hari kedua, Sabtu, 14 Juni 2014; "Kaliurang, Kami datang!!"
Lanjut di hari kedua. Kami punya jadwal bedah novel Sang Alkemis oleh Tia Setiadi dan kuliah State of Mind dari Pak Edi hingga tengah hari, lalu sisanya adalah perjalanan ke Kaliurang dan bersenang-senang! Yay!
| Ini dia Mas Tia Setiadi saat beraksi membedah novel Sang Alkemis. |
| Kuliah State of Mind oleh Pak Edi Akhiles. |
Setelah berserius ria, saatnya kita besenang ria.
Pukul 13:00 kita berangkat dari asrama menuju Kaliurang.
Peserta dibagi ke dalam beberapa buah mobil yang difasilitasi oleh Pak Edi.
Saya satu mobil dengan Pia, Lia, Elisa, Farrah, Mas Sukur, Vivi, Reza dan Mas Aconk.
Dan kami...ngobrol.
Kira-kira berselang 1 jam lewat dikit, kami pun hadir di sebuah penginapan di Kaliurang.
Bagi yang belum tau, Kaliurang terletak di dekat gunung Merapi. Hawanya sangat dingin. Brrr! Hehe.
Di sana kami langsung disambut oleh taman bermain yang ada ayunannya. Jadilah semua peserta kembali ke sifak kekanak-kanakannya.
Ini Lia dan Pia yang nampak bahagia mendapati di usia mereka sekarang, akhirnya bermain ayunan lagi.
Setelah beradaptasi sejenak, kami diberitahu untuk mempersiapkan penampilan di malam minggu. Malam mingguan Khas Kampus Fiksi. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok, dan masing-masing harus menampilkan yel-yel dan sebuah drama singkat.
Eng ing eng... Tiba-tiba sudah malam aja.
Saatnya acara malam mingguan bersama.
Saya yang satu kelompok dengan Lia, Farrah, Mbak Indah dan Elisa menampilkan "yel-yel yang iya iyalah" dan drama absurd tentang Bambang yang terlambat ke sekolah karena diajak muter-muter oleh supir travel.
Yang mengesankan dari semua penampilan adalah munculnya sosok Evi Rose dan kelompoknya. Mengusung drama "Kembar Diaries" dengan tagline-nya "panasshh, sensssasionall, menggelithikk, fennnommenaaalll" yang akhirnya menjadi tagline kami semua di keesokan harinya.
Oh, iya, ada juga hantu minta MoU yang diperankan oleh Mas Adit. Dan juga ada drama ala sinetron diperankan oleh Reza dan Rosanti (selanjutnya dipanggil dengan KakRez dan KakRos, yang dipercayai sudah maktub!)
Juga ada penampilan spesial dari para panitia. Dan saya melihat sisi lain dari Mbak Rina.
| Saya dan temans kelompok sedang ber-absurd ria. |
| Ini hantu yang minta MoU biar cepet turun. |
| Adegan yang sinetron bingits oleh KakRez dan KakRos. |
| Dan ini adalah Evi Rose bersama kelompok (kiri-kanan; Fia, Sayful, Evi, Didi, Ghyna) |
| sedang memperagakan tagline "panasshh, sensssasionall, menggelithikk, fennnommenaaalll" |
| Inilah Mbak Rina dengan kepribadiannya yang lain. | ||||
| Looks so cute! Entah itu adalah akting, | ||||
| atau yang kulihat selama ini adalah yang akting. :D | ||||
| Bonus |
Setelah semua penampilan, akhirnya kami sampai pada acara penganugerahan dan penyerahan hadiah simbolis kepada cerpenis terbaik dari semua cerpen peserta Kampus Fiksi Emas. Juga ditambah sebuah award rahasia dari Pak Edi kepada alumni favorit Kampus Fiksi.
| Cerpenis terbaik diberikan kepada Mas Sayfullan. Hadiahnya 5jt vroohhh. |
| Dan award spesial "Alumni Favorit Kampus Fiksi 2014" diberikan kepada Reza Nufa. |
| Formasi lengkap peserta Kampus Fiksi Emas 2014 |
Malam minggu pun ditutup dengan acara api unggun dan permainan 'truth or dare' yang dibarengi dengan berbagi kado antar peserta.
| Venue terjadinya truth or dare ala Kampus Fiksi Emas |
| Ini KakRez saat di-dare mengungkapkan cinta, dia memilih KakRos cobaaa... so sweet ya...:D | |||
| Dasar cinloker dan PHP emang...xD |
| Lalu ini adalah Mas Aconk yang memeluk saya karena di-dare untuk memeluk seorang lelaki. |
| Dan saya adalah lelaki terpilih itu. So sweet juga sih ini... |
| Dan ini saya dan KakRez berpelukan. Bukan karena dare atau tantangan apapun. |
| Lagi pengin aja... malam itu dingin... xD |
Setelah api unggun meredup dan mati. Kami nyanyi bareng di pelataran penginapan sampai ngantuk.
To be continued...
Berikutnya; "Lava Tour Merapi!"
Subscribe to:
Posts (Atom)









